bar-chart-race visualization

LONGFORM - SABTU, 17 AGUSTUS 2024

Penantang Baru Negeri Abang Sam di Olimpiade

Cina bersaing ketat Amerika Serikat (AS) di klasemen akhir perolehan medali Olimpiade Musim Panas dalam enam edisi terakhir, termasuk pada Olimpiade Paris 2024. Peningkatan prestasi olahraga Cina tidak terlepas dari visi negara tersebut untuk menjadi aktor utama dunia.

Memasuki hari terakhir Olimpiade Paris 2024 pada Minggu, 11 Agustus 2024, Cina masih memuncaki puncak klasemen perolehan medali dengan raihan 39 medali emas, sedangkan Amerika Serikat (AS) berada di bawahnya, tertinggal 1 emas. Bahkan Cina kembali menjauh setelah Li Wenwen mendapat emas dari cabang olahraga angkat besi putri kelas +81 kilogram. 

Namun AS akhirnya berhasil menyamai jumlah emas Cina. Setelah sempat gagal mendapat emas dari cabang olahraga voli putri karena kalah 0-3 dari Italia di final, AS memperoleh tambahan dua emas lewat cabang balap sepeda putri dan basket putri. Keberhasilan AS menyamai jumlah emas Cina juga mengantar tim AS kembali menjadi juara umum untuk ke-19 kali berkat torehan perak yang lebih banyak.

Setelah Uni Soviet bubar, Cina muncul menjadi penantang utama AS di Olimpiade Musim Panas, meski Cina tergolong sebagai pendatang baru. Negara itu baru berpartisipasi secara resmi di bawah bendera Republik Rakyat Cina pada Olimpiade 1952 dan absen karena boikot hingga tampil kembali di bawah bendera yang sama pada Olimpiade 1984. Namun, Cina telah mencatatkan jumlah emas terbanyak ketiga sepanjang sejarah Olimpiade di bawah AS dan Uni Soviet. Emas yang diperoleh Cina bahkan lebih banyak dibanding negara-negara lain yang hampir rutin berpartisipasi di Olimpiade sejak 1896 selain AS seperti Inggris dan Prancis.

Mengapa Cina Serius Menghadapi Olimpiade?

Peneliti kebijakan luar negeri Cina asal Rutgers University, Shaoyu Yuan menyebut bahwa setiap medali emas Olimpiade merupakan sumber kebanggaan bagi penduduk Cina. Pundi-pundi emas Olimpiade melambangkan kebangkitan negara di panggung dunia setelah masa-masa sulit yang mereka alami di masa lampau. Maka, dominasi di Olimpiade pun menjadi instrumen yang melengkapi ambisi militer dan ekonomi Cina di panggung dunia. 

“Kemenangan Olimpiade dianggap sebagai validasi pengaruh global Cina yang semakin meningkat dan memastikan tempatnya sebagai pemimpin dunia,” tulis Yuan dalam artikelnya di The Diplomat.

Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Nur Rachmat Yuliantoro menyebut bahwa performa menonjol Cina di Olimpiade tidak dapat dilepaskan dari visi masa depan Cina yakni China Dream. Visi tersebut tidak hanya mengimpikan Cina sebagai negara yang kuat secara ekonomi, tetapi juga kuat di bidang olahraga dan masyarakatnya dapat menjadi percontohan bagi masyarakat negara lain.

“Ini semua lagi-lagi merujuk kepada Mimpi Cina (China Dream), tetapi juga sekaligus ingin menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Cina adalah negara yang sangat kuat dan sedang berusaha untuk menjadi salah satu aktor utama dunia,” kata Rachmat saat ditemui Tempo pada Jumat, 16 Agustus 2024 di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM.

Keseriusan Cina untuk mendominasi Olimpiade terlihat dari visi dan rencana pembangunan negara tersebut. Dalam Visi 2035 yang dirilis pada 2020, tertulis jelas bahwa Cina memiliki ambisi untuk menjadi negara yang kuat dalam hal budaya, pendidikan, sumber daya manusia, olahraga, dan kesehatan. Ambisi itu kemudian tertuang dalam Bab 44 Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025). Dokumen tersebut menyebut bahwa Cina berupaya mempertahankan dominasi mereka di cabang olahraga unggulan mereka serta meningkatkan daya saing negara tersebut di olahraga lain seperti sepak bola, basket, voli, dan olahraga musim dingin.

Namun, keseriusan Cina untuk mendominasi olahraga kompetitif jauh terlihat sebelum Visi 2035 muncul. Setelah Beijing sukses terpilih sebagai tuan rumah Olimpiade 2008 pada 2001, pemerintah Cina meluncurkan Proyek 119 yang bertujuan meningkatkan perolehan emas Cina di cabang-cabang olahraga yang menjadi titik lemah negara itu seperti atletik, renang, dayung, kano, dan layar. Angka 119 merujuk pada jumlah medali emas yang didapat dari cabang olahraga tersebut pada Olimpiade Sydney 2000.

Pada akhirnya, Proyek 119 tersebut tidak berjalan sesuai ekspektasi. Atlet-atlet Cina masih belum dapat memborong emas dari lima cabang olahraga tersebut. Namun, Cina semakin dominan di berbagai cabang olahraga andalan mereka seperti lompat indah, angkat besi, dan tenis meja. Cina juga berhasil menjadi juara umum Olimpiade Beijing 2008 berkat perolehan akhir emas terbanyak. Keberhasilan itu menjadikan Cina sebagai negara selain AS dan Uni Soviet yang berhasil memuncaki klasemen akhir perolehan medali Olimpiade setelah Perang Dunia II.

Negeri Tirai Bambu jor-joran mengucurkan dana untuk lembaga yang mengurusi olahraga, serta membangun dan mengelola ribuan sekolah olahraga untuk menempa atlet-atlet potensial. Keterlibatan negara dalam meningkatkan prestasi olahraga membedakan Cina dengan AS, yang atlet-atlet Olimpiadenya berangkat tanpa dibiayai negara sepeser pun.

Kehadiran Cina sebagai tim terkuat di Olimpiade pun membuat persaingan AS dengan Cina kini turut merambah dunia olahraga. Untuk menggambarkan persaingan AS dengan Cina di berbagai bidang, termasuk Olimpiade, Rachmat lebih memilih istilah kompetisi strategis dibanding rivalitas.

“Lagi-lagi ini tujuannya untuk menunjukkan bahwa Cina adalah negara yang kuat, setidaknya Cina adalah aktor utama dunia internasional,” kata Rachmat.

Tempo Media Lab

  • Penulis

    Faisal Javier

  • Editor

    Raymundus Rikang

  • Desain

    Novandy Ananta

  • Multimedia

    Faisal Javier

    Rizkika Syifa

  • Header

    Reuters

Powered By

Artikel Interaktif Lainnya