Longform

Nestapa Anak-anak Ahmadiyah di Negara Merdeka

Senin, 19 September 2022

Selama 16 tahun komunitas Ahmadiyah di Lombok terjebak di transito tanpa kepastian memiliki rumah tinggal sendiri. Selama itu, anak-anak mereka rentan hidup di bawah ancaman perundungan dan stigmatisasi.

Oleh Eka Yudha Saputra

tempo

Baru sepuluh menit wawancara, Maryam menyeka matanya dengan tisu putih yang tergeletak pada salah satu meja di transito komunitas Ahmadiyah. Sesekali membetulkan lipatan jilbab. Maryam ingin menjadi dokter. Ia ingin membantu orang-orang yang kesusahan sakit. Tetapi kelopak matanya basah setiap ia berkaca pada hidup, melihat kondisi tempatnya tinggal, pun kisah-kisah kakaknya atau orang tuanya. Ia sadar merasa terasing sebagai anak.

tempo
Maryam (kanan), anak dari orang tua anggota Ahmadiyah yang berusia 15 tahun yang lahir di transito bersama teman dekatnya Maulida, 16 tahun, anak dari warga luar transito berpose di tembok bangunan transito bertuliskan semboyan Ahmadiyah, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

“Kalau kita kumpul, sama teman-teman di transito ini, sering bertanya-tanya kenapa kita diginiin? Padahal kita ini sama,” kata remaja perempuan berusia 15 tahun. Lalu meneteskan air mata tanpa suara.

Maryam sejak lahir tinggal di kamar-kamar sekat triplek yang menampung komunitas Ahmadiyah yang terusir di Nusa Tenggara Barat. Keinginan menjadi dokter sama kuatnya ingin tinggal di rumah sendiri, bukan di dalam kubikel triplek pengap tanpa tempat belajar.

Menurut hasil pengumpulan data oleh Save the Children Indonesia Oktober 2021, setidaknya ada 35 anak-anak yang tinggal di transito, tempat yang dulunya dipakai untuk transmigran. Di sana terdapat 35 KK jemaah Ahmadiyah yang terdiri dari kurang lebih 127 jiwa, dengan rincian 51 perempuan, 41 laki-laki, 35 anak-anak.

Kepada Tempo, 28 Agustus lalu, Maryam menceritakan bagaimana dulu kakaknya dilempar batu oleh anak-anak lain sepulang sekolah. Sejak itu dan akibat kenangan lain yang membekas, ia tumbuh menjadi penyendiri.

Maryam adalah satu dari empat bersaudara. Ia lahir pada 2007 atau setahun sejak orang tuanya menetap di transito. Ia menceritakan pengalaman bagaimana perundungan sering dialami anak-anak transito. Sering kali anak-anak transito dirundung karena stigma terhadap Ahmadiyah atau karena mereka tinggal di transito.

“Kakakku yang dulu sewaktu baru pindah ke transito. Ketika pulang sekolah mereka dilempari pakai batu sampai kepalanya bocor,” cerita Maryam.

tempo
Maryam (kanan), anak dari orang tua anggota Ahmadiyah yang berusia 15 tahun yang lahir di transito bersama teman dekatnya Maulida, 16 tahun, anak dari warga luar transito, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

Ia menuturkan dulu sering mendapat pertanyaan menekan kenapa ia masuk Ahmadiyah hingga apa itu Ahmadiyah, mulai dari guru atau teman-temannya. Adik Maryam, menceritakan padanya, ia pernah dijauhi teman-temannya karena dilarang ustad mereka bergaul dengannya karena mereka Ahmadiyah.

Child Rights Governance Advisor dari Yayasan Save the Children Indonesia, Ratna Yunita, mengatakan pengalaman yang dialami Maryam dan anak-anak transito adalah hal penting yang harus segera diperhatikan. Anak-anak dari komunitas minoritas adalah kelompok paling rentan. Kebutuhan dan perlindungan terhadap mereka sering kali luput karena publik hanya melihat pada latar konfliknya. Ia mengatakan anak-anak yang terkena diskriminasi dan stigmatisasi rentan terhadap ketidakpercayaan diri dan tidak punya mimpi.

“Ini yang kami coba dampingi melalui program kegiatan-kegiatan Save the Children supaya mereka punya harapan,” kata Ratna.

Save the Children Indonesia mulai masuk ke transito pada 2021. Intervensi ini merupakan program Save the Children Indonesia untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak komunitas minoritas, seperti anak-anak Ahmadiyah.

Ratna mengatakan ada stigmatisasi dan perundungan yang diteruskan ke generasi minoritas berikutnya, seperti yang terjadi pada Maryam. Maryam tidak melihat langsung kekerasan yang dialami kakak-kakaknya, namun pengalaman itu membekas ke Maryam melalui cerita sehingga memengaruhinya.

tempo
Semboyan Ahmadiyah yang dibuat di dinding bangunan transito di Lombok, 28 Agustus 2022. Komunitas Ahmadiyah terpaksa menghuni bangunan transito bekas dipakai transmigran sejak 2006 karena persekusi dan intimidasi, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

“Maryam pada akhirnya menyadari betapa sulitnya ia untuk diterima hidup berdampingan damai dengan masyarakat luar transito,” ujarnya.

Ayah Maryam, Syahidin, juga mengatakan diskriminasi yang dialami komunitas Ahmadiyah juga terjadi kepada anak-anak mereka, terutama ketika tahun-tahun pertama stigmatisasi. Dulu, rapor sekolah mereka dibedakan dari anak-anak lain, atau dicap Ahmadiyah. Tidak hanya itu, jemaah Ahmadiyah juga kesulitan mengurus dokumen kependudukan atau asuransi kesehatan negara. Alhasil, mereka kesulitan membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan jika sakit.

“Pernah dari kami mau buat KTP, tetapi ditolak pegawai kelurahan karena tahu Ahmadiyah,” ujar ketua pengurus komunitas Ahmadiyah di transito.

Lemparan Batu Malam Tadarus Puasa

Malam itu mestinya suci. Syahidin sedang tadarus di malam Ramadan ketika sontak mendengar lemparan batu ke rumah jemaah Ahmadiyah. Tiga rumah rusak. Seorang tokoh agama dari Praya, yang menghasut penyerangan, mengatakan kepada massa untuk menunggu sampai tiga bulan lagi.

“Setelah tiga bulan kami diserang lagi. Kami lapor Polres dan bupati,” cerita Syahidin.

Polisi berjanji kepada anggota Ahmadiyah untuk menjaga rumah mereka, dan membawa mereka untuk evakuasi. Syahidin menoleh ke arah rumahnya dan milik tetangganya terbakar. Ia mengingat kesal betapa polisi saat itu hanya melihat tanpa mencegah massa membakar rumah mereka. Orang-orang mengangkuti barang-barang kelompok Ahmadiyah, televisi hingga perabot. Sebanyak 21 rumah jemaah Ahmadiyah dari desa Syahidin terbakar. Syahidin dan jemaah Ahamdiyah lain tidak berpikir membawa barang berharga. Mereka hanya fokus bagaimana menyelamatkan anak-anak dan anggota keluarga.

“Saat itu saya tidak memikirkan untuk membawa barang-barang lain. Kami waktu itu cuma membawa anak-anak kami,” kata Syahidin, nyaris menangis mengingatnya.

tempo
Syahidin, anggota Ahmadiyah yang tinggal di transito, Lombok, saat menceritakan persekusi yang ia alami, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

Setahun sebelum penyerangan, Syahidin menceritakan jemaah Ahmadiyah hidup berdamai dengan warga sekitar. Bahkan, jemaah Ahmadiyah ikut menyumbang tenaga dan bahan bangunan pembangunan masjid yang digunakan bersama warga sekitar. Sampai tetiba seorang tokoh Agama dari Praya berceramah dalam pengajian rutin. Tokoh agama itu berceremah menuduh Ahmadiyah sesat dan sebagainya. Dari rumahnya, Syahidin mendengar ceramah kebencian itu. Ironisnya, ceramah itu dilontarkan dari pengeras suara masjid yang pembangunannya dibantu oleh anggota Ahmadiyah. Warga yang terhasut berupaya menyingkirkan anggota Ahmadiyah. Misalnya, mereka berupaya memutus pasokan air hingga listrik. Puncaknya, pembakaran 21 rumah anggota jemaah Ahmadiyah.

“Sewaktu pembangunan masjid itu kita ikut bantu ngecor sama sumbang semen dan lain-lain,” ujar Syahidin.

Terjebak Dalam Transito

tempo
Tampak suasana di transito yang dihuni komunitas Ahmadiyah sejak 2006 setelah mereka dipersekusi dan rumah tinggal mereka dibakar, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

Pada 2006, komunitas Ahmadiyah yang terusir mulai menempati transito, sebuah bangunan singgah yang dahulu dipakai transmigran milik Pemerintah Provinsi. Ada tiga bangunan memanjang yang berdiri di kompleks transito. Bangunan-bangunan itu awalnya hanya dibagi-bagi dengan sekat kain atau sarung, kata Syahidin. Satu keluarga tidur berjejalan dalam ruangan 3 x 3 meter.

tempo
Suasana kamar yang ditinggali satu keluarga di transito yang menjadi tempat singgah komunitas Ahmadiyah yang dipersekusi, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

“Kemudian ada yang menyumbang papan triplek karena prihatin melihat kondisi kamar yang dipisahkan kain,” kata Syahidin.

tempo
Suasana kamar yang disekat papan kayu di transito yang menjadi tempat singgah komunitas Ahmadiyah yang dipersekusi, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

Berdasarkan pantauan Tempo, tempat singgah komunitas Ahmadiyah ini jauh dari layak. Atap asbes bolong dengan kasur tipis tergeletak pada lantai. Antara satu ruangan dan lainnya, yang memisahkan keluarga, hanya dipasang triplek setinggi dua meter setebal setengah sentimeter. Jemaah Ahmadiyah harus bergantian menggunakan lima kamar mandi umum yang berada di belakang.

tempo
Tampak suasana di transito yang dihuni komunitas Ahmadiyah sejak 2006 setelah mereka dipersekusi dan rumah tinggal mereka dibakar, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

“Saya biasanya bangun subuh supaya bisa mandi agar tidak telat ke sekolah,” cerita Maryam.

Syahidin mengatakan ia dan anggota Ahmadiyah ingin keluar dari transito. Ia bersedia untuk ditempatkan di mana saja asal keselamatannya terjamin. Namun hingga saat ini belum ada itikad dari Pemerintah Daerah untuk mengizinkan mereka keluar transito,

“Kami mau direlokasi di mana saja, desa atau kota, asal keselamatan kami, anak-anak kami, terjamin,” katanya.

tempo
Majalah dinding pada salah satu tembok musala di transito. Transito dihuni komunitas Ahmadiyah sejak 2006 setelah mereka dipersekusi dan rumah tinggal mereka dibakar, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

Syahidin heran dengan stigmatisasi yang masih mereka alami. Menurutnya, Ahmadiyah tidak pernah sama sekali menyimpang dari ajaran Islam. Ia mengatakan Syahadat dan Al-quran mereka sama seperti yang lain.

“Mereka yang menganggap kami sesat tidak pernah berbicara dari hati ke hati dengan kami. Kami tidak pernah menyebut Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi. Kami hanya menganggapnya imam. Nabi kami tetap Muhammad SAW,” katanya.

Komunitas Ahmadiyah di transito bekerja serabutan. Syahidin sendiri bekerja sebagai buruh tani atau kebun. Yang lainnya bekerja sebagai pemulung, atau pengepul batok kelapa untuk arang, dan pekerja kasar lain. Tidak ada yang mendapat kesempatan untuk bekerja formal.

Tertindas di Negara Merdeka

Anwar, paralegal dan pengurus Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), mengatakan banyak para orang tua jemaah Ahmadiyah yang menangis saat mengevakuasi anak-anak saat penyerangan orang-orang intoleran. Bagi komunitas Ahmadiyah, anak-anak adalah hal yang paling penting dalam hidup.

tempo
Anwar, paralegal dan pengurus Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), saat wawancara di transito komunitas Ahmadiyah di Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022. [Tempo/Eka Yudha Saputra]

Anwar mengatakan jemaah Ahmadiyah punya cara untuk menangani persekusi, yakni dengan tidak membalas. Menurutnya, mereka yang menyerang adalah korban dari aktor intelektual. Apalagi penyerangan ini juga tidak bisa dilepas dari politik. Jaringan Ahmadiyah di 219 negara memiliki motto universal agar tidak membalas kebencian dengan kebencian.

“Love for all, hatred for none. Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun,” kata Anwar.

Anwar mengatakan banyak anggota Ahmadiyah yang ingin keluar dari transito. Pada 2010, anggota Ahmadiyah di transito termasuk Syahidin, pernah keluar dan kembali ke rumah mereka yang dirisak. Namun mereka masih menghadapi penyerangan dari warga sekitar.

“Mereka mau keluar dari transito tetapi apakah ada jaminan mereka aman,” kata Anwar.

Syahidin merasa sedih jika anak-anak menanyakan kapan mereka punya rumah sendiri. Bila demikian, ia mengalihkan pikiran anak-anak dengan mengajaknya jalan-jalan berkeliling atau menghibur dengan segala cara. Ia juga meminta para orang tua di transito tidak mengeluh di depan anak-anak mereka.

“Kadang mereka (anak-anak) bertanya-tanya kenapa kita tidak punya rumah sendiri,” katanya.

Mereka yang tersisa di Transito berasal dari Perumahan Bumi Asri Ketapang, Dusun Ketapang, Desa Gegarung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Lebih dari 15 tahun sudah mereka mendiami Transito akibat terusir dari kelompok intoleran.

Save the Children melalui program HEAL (Promote Human Rights and Equality to Achieve Sustainability) bukan hanya mendampingi anak-anak rentan di transito dengan Forum Anak Pejanggik yang berkolaborasi dengan Dewan Anak Mataram, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat melalui Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dan Forum Desa Inklusif.

tempo
Anak-anak Ahmadiyah merayakan lomba dalam rangka Kemerdekaan RI ke-77 di transito, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

Setelah kurang lebih 1 tahun, Save the Children melakukan pelatihan untuk anak-anak dan mendorong keterlibatan mereka dalam Forum Anak. Hasil dari kegiatan ini membuat anak-anak lebih percaya diri dan tidak minder, mampu berdialog dengan pemangku kebijakan, serta anak-anak bukan Ahmadiyah dan Ahmadiyah bisa membaur dengan baik. Sementara untuk orang dewasa menjadi lebih terbuka dengan pihak luar dan mau mendorong anak-anak untuk berpartisipasi. Save the Children berupaya menghapus stigmatisasi penyintas kelompok minoritas agama dan membantu hak-hak dasar mereka sebagai manusia terpenuhi seperti masyarakat pada umumnya.

“Namun, Save the Children tidak bisa bergerak sendiri, kami membutuhkan peran komunitas secara massif untuk ikut menyuarakan pesan-pesan inklusivitas dan hak yang setara untuk semua masyarakat,” kata Ratna.

Maryam adalah salah satu yang ikut dalam Forum Anak Pejanggik. Ia menuturkan mulai berani bergaul ketika masuk Sekolah Menengah Pertama. Bahkan, ia mengikuti ekstrakurikuler Paskara (Pasukan Pengibar Bendera). Maulida, 16 tahun, adalah teman dekatnya di luar transito. Ia menyesalkan kenapa Maryam dan anak-anak Ahmadiyah lain diperlakukan berbeda di masyarakat.

“Seharusnya kita tidak ada dikriminasi antarumat karena kita punya keyakinan masing-masing yang berbeda. Dari Maryam saya banyak belajar tentang perbedaan,” kata Maulida.

tempo
Tampak suasana di transito yang dihuni komunitas Ahmadiyah sejak 2006 setelah mereka dipersekusi dan rumah tinggal mereka dibakar, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

Maryam didaulat sebagai Duta Anak NTB. Angan-angan menjadi dokter membuatnya mendambakan tempat belajar yang kondusif, bukan belajar di sekar-sekat triplek. Ia juga berharap mempunyai rumah sendiri, dengan halaman sendiri untuknya bermain, atau mengajak temannya bermain.

“Aku mau ungkapin ke Presiden Joko Widodo, Pak tolong wujudkan sila kedua Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab kepada kami warga Ahmadiyah. Kami anak Ahmadiyah juga ingin punya rumah sendiri, seperti anak-anak lain, rumah yang sederhana saja,” kata Maryam sambil terisak ketika ditanya apa yang ingin disampaikan kepada Presiden Joko Widodo.

CREDIT

Penulis

Multimedia

Editor