Diperdagangkan Sampai Punah

Sindikat-sindikat kriminal di Afrika dan Asia bekerja sama—dan bersaing—untuk memenuhi permintaan tenggiling di Cina dan pasar lainnya. Lebih dari 30 wartawan menyelidiki bagaimana perdagangan ilegal tenggiling membawa spesies tersebut ke gerbang kepunahan.

Mamalia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia adalah pemakan semut yang senang menyendiri dan mirip artichoke: tenggiling. Diburu karena sisiknya, terutama untuk pengobatan tradisional di Cina, hewan pendiam ini berada di tengah-tengah rantai perdagangan senilai milyaran dolar di seluruh Afrika dan Asia, yang dipimpin oleh berbagai jaringan sindikat kriminal.  

Global Environmental Reporting Collective, yang dibentuk di awal tahun 2019, memilih perdagangan tenggiling sebagai fokus pertama penyelidikannya. Lebih dari 30 wartawan dari 14 ruang wartawan ikut melaporkan dari Afrika dan Asia, dan melangsungkan lusinan sesi wawancara, bahkan sampai menyamar. Hasilnya diterbitkan di sini dengan judul Laporan Tenggiling (The Pangolin Reports). 

“Sekitar 50 ton sisik trenggling Afrika sudah disita di seluruh dunia dalam empat bulan terakhir,” kata Peter Knights, CEO kelompok advokasi WildAid. “Dalam pengiriman yang memuat tenggiling dan gading, sisik tenggiling telah melebihi volume gading.”

Tingginya permintaan telah menjadikan tenggiling mamalia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Para ilmuwan berkata bahwa delapan, yaitu seluruh, subspesies hewan yang pemalu ini terancam punah. Dan ketika tenggiling lenyap, keseimbangan ekologi dalam habitat alami mereka pun terganggu.

“Pada abad ke-21 ini kita benar-benar tidak semestinya mengonsumsi spesies sampai punah,” ujar Jonathan Baillie, ahli tenggiling yang terdepan, pada tahun 2014. “Tidak ada alasan untuk membiarkan perdagangan ilegal ini berlanjut.” Pada dekade sebelumnya, lebih dari satu juta tenggiling diperkirakan telah diburu, menurut IUCN.


Ahli margasatwa memperkirakan bahwa 9 dari 10 tenggiling yang diperdangkan secara liar tidak terdeteksi oleh pihak berwenang. Credit: Tsai Yao-Cheng/The Reporter.

Larangan global tentang perdangan tersebut yang mulai berlaku pada bulan Januari 2017 tidak berhasil mengubah keadaan. Tahun ini, jumlah tenggiling yang disita merupakan jumlah yang paling tinggi, menurut Environmental Investigation Agency (EIA), sebuah organisasi advokasi.

Pada bulan Februari, penyitaan sebesar 30 ton di Sabah, Malaysia, adalah penyitaan terbesar yang tercatat sejauh ini. Pada bulan April, pemerintah Singapura menggagalkan perdagangan 12.9 ton sisik, penyitaan terbesar yang setara dengan 36 ribu tenggiling. Beberapa hari kemudian, Singapura kembali menyita 12.7 ton. Pada bulan Juli, operasi lain menemukan pengiriman sebesar 11.9 ton, dan ini menjadikan 2019 tahun yang terburuk.

Menurut EIA, penyitaan secara global telah jauh melampaui angka pada tahun 2018. Para peneliti EIA memperkirakan bahwa jumlah yang setara dengan 110.182 tenggiling telah disita oleh penegak hukum tahun ini—peningkatan sebesar 54.5 persendibandingkan tahun lalu.

Salah satu alasannya adalah kesadaran penegak hukum yang meningkat, kata Darren Pietersen, direktur penelitian dan konservasi Tikki Hywood Foundation. “Berbagai makalah penelitian menunjukkan bahwa peningkatan ini paling tidak benar-benar suatu peningkatan dalam jumlah tenggiling yang diburu secara liar,” katanya.

Meskipun begitu, mayoritas penyelundupan sepertinya akan berlanjut tanpa terdeteksi, berdasarkan laporan kami. Hanya sepersepuluh dari margasatwa yang diperdagangkan berhasil ditemukan, menurut satu perkiraan Interpol.

Para wartawan kami menelusuri rute-rute perdagangan ilegal dari pasar-pasar di pinggir jalan di Kamerun dan daerah lain sampai ke perantara dan pedagang ilegal di Nepal dan balik ke Cina. Bab-bab berikut ini akan memberikan informasi tentang ekonomi bayangan yang telah berjaya di bawah radar. Tanpa campur tangan, tindakan-tindakan seperti ini akan membawa tenggiling ke kepunahan.

Meskipun perdagangan gelap ini terjadi dalam skala luar biasa, tidak banyak yang diketahui tentangnya, bahkan oleh penuntut dan penegak hukum di pasar utamanya: Cina.


Peta ini menggambarkan rute internasional yang digunakan untuk perdagangan ilegal trenggiling. Rute ini sebagian besar terbentang di Afrika dan Asia. Mayoritas permintaan untuk trenggiling diyakini berasal dari Cina, di mana dagingnya dikonsumsi dan sisiknya digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Data: Nepal Times.
I

Cina

Di luar pintu gerbang suatu gedung di bagian utara Cina, seorang laki-laki paruh baya dengan nama belakang Zhang awalnya tidak terlihat tertarik berbicara dengan kami atau menjawab pertanyaan mengenai bisnis pengobatan tradisional Cina, atau Traditional Chinese Medicine (TCM), yang ia keluti.

Raut mukanya berubah ketika kami menyebutkan tenggiling. “Kalian punya suplai?” katanya. “Mari ke kantor kami, kita bicarakan lebih lanjut.”

Zhang bekerja di bagian suplai produsen TCM di Shantou, Propinsi Guangdong. “Sejauh ini, tahun ini kami sudah menggunakan beberapa ton sisik tenggiling,” kata Zhang. “Kami butuh setidaknya beberapa ratus kilogram per bulan.”

“Kami memesan satu ton sisik bulan lalu, tetapi belum tiba,” katanya, lalu menambahkan bahwa mereka juga akan menjual sisik yang belum diproses ke perusahan-perusahaan farmasi lain.

Wartawan-wartawan kami meninjau lebih dari 400 keputusan persidangan kriminal di Cina yang berhubungan dengan perdagangan ilegal tenggiling dari tahun 2005 sampai 2019. Dari kasus-kasus persidangan yang kami pelajari, hanya ada segelintir kasus di mana para penuntut bisa atau bersedia menelusuri rute-rute penyelundupan sampai ke titik awal mereka, seperti Indonesia dan Nigeria.

Jumlah penyitaan tenggiling tengah meningkat, tidak hanya di Cina—pasar utamanya—tetapi juga di lokasi-lokasi transit seperti Vietnam, Singapura, dan Hong Kong, menurut data dari EIA. Bahkan di tempat-tempat ini, asal muasal hewan tersebut tidak pernah diketahui dalam sebagian besar kasus.

Penyitaan tenggiling yang diperdagangkan secara ilegal di seluruh dunia dari tahun 2000 sampai Maret 2019, menurut laporan-laporan yang tersedia untuk umum. Sumber: Data yang dikumpulkan oleh EIA.

Mengembangbiakkan dan memelihara tenggiling terbukti sulit. Cina memiliki sistem transparan yang membolehkan konsumsi suplai tenggiling untuk TCM. Karena permintaan yang tinggi dan pengawasan regulasi yang terbatas, banyak pemasok bergantung pada impor yang murah dan ilegal.

Inilah kenapa kami menyamar dan mengunjungi Zhang di pabriknya di Cina bagian selatan. Kami ingin tahu dari mana asal sisik yang dia miliki.

Zhang bersikeras bahwa perusahannya bersedia membayar biaya tambahan agar hanya memasok sisik secara legal, meskipun harganya bisa dua kali lipat. “Harga bukan masalah,” katanya.

Perusahaan Zhang, antara lain, membuat racikan TCM dari sisik tenggiling mentah dalam jumlah yang besar untuk industri. Setelahnya kami menghubungi perusahaan tersebut untuk menanyakan asal muasal sisik mereka. Mereka menolak memberikan jawaban.

Tetapi pernyataan-pernyataan Zhang membuat kami ingin tahu. Kalau perusahaan menengah seperti perusahannya membutuhkan berton-ton sisik, bagaimana cara perusahaan-perusahaan farmasi yang lebih besar memasok sisik tenggiling mereka? Dari mana asal jutaan tenggiling ini kalau hampir tidak ada yang tersisa di Cina?

Populasi tenggiling Cina telah jatuh lebih dari 90% dari taun 1960 sampai 2004 karena perburuan liar untuk dagingnya sebagai santapan mewah dan sisiknya untuk obat. Tenggiling Cina telah “punah secara komersil” sejak 1995, kata para peniliti.

Angka keuntungan yang kami temukan luar biasa. Sisik yang dibeli seharga hanya $5 per kilogram di Nigeria bisa dijual kembali dengan harga sampai $1000 di Cina, kata pedagang-pedagang yang kami wawancarai di Cina. Kalau dicampur dengan sisik yang diperoleh secara legal, harganya bisa mencapai $1,800 per kilogram.

Siapa yang menginginkan sisik tenggiling? Menurut beberapa praktisi TCM, sisik tenggiling bisa menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk radang, laktasi rendah pada ibu yang baru melahirkan, bahkan impotensi dan kanker.

Harga sisik dan daging tenggiling di berbagai negara, bersumber dari organisasi pelestarian satwa liar dan pejabat pemerintah serta wawancara dengan pemburu liar dan pedagang, yang identitasnya disamarkan demi keamanan mereka.

Dr. Lao Lixing, yang pernah menjadi direktur departemen pengobatan Cina di Universitas Hong Kong, berkata bahwa tidak ada penelitian ilmiah yang menudukung klaim bahwa sisik tenggiling bisa menyembuhkan.

Menurut Dr. Lao Lixing, kebanyakan praktisi TCM di Hong Kong dan daratan Cina telah berhenti meresepkan obat-obatan yang mengandung sisik tenggiling, tetapi perusahaan-perusahaan farmasi terus memproduksi obat-obatan yang mengandung sisik tersebut. “Ini masalah pasar dan keuntungan,” katanya. “Untuk meneruskan larangan penggunaan tenggiling dalam pengobatan Cina, kita membutuhkan edukasi masyarakat dan usaha bersama oleh sektor TCM.”

“Para profesional TCM harus angkat suara untuk membela nama baik pengobatan Cina,” kata Dr. Lao, yang sering berbicara dalam konferensi-konferensi internasional untuk mendorong digantikannya bahan-bahan yang berasal dari hewan dalam TCM dengan bahan-bahan yang berbasis tanaman.

Sisik tenggiling dijual di sebuah apotek di Shantou, Propinsi Guangdong. Sisik ini disimpan dalam kantong-kantong plastik yang tidak ditandai dan tidak dipajang, dan dijual seharga 6 renminbi per gram—tidak sampai $1. Pekerja apotek tersebut memberi tahu wartawan kami yang menyamar bahwa sisik tenggiling bisa mengurangi pembengkakan dan meningkatkan laktasi.

Sisik pangolin yang dijual di apotek di Shantou, Provinsi Guangdong. Sisik-sisik ini disimpan dalam kantong plastik tak bertanda yang tersembunyi dari konter, dijual seharga 6 renminbi per gram - kurang dari $ 1. Pekerja itu mengatakan kepada jurnalis kami yang menyamar bahwa sisik pangolin baik untuk mengurangi luka pembengkakan.

Di sebuah apotek lain di Shantou, sisik tenggiling dijual seharga lebih dari 7,000 renminbi, atau $990, per kilogram. Paket ini mengandung 5 gram sisik dan ditandai stiker dari Wildlife Special Mark Center Cina yang menyatakan bahwa produk tersebut dijual secara legal.

Walaupun khasiat pengobatannya tidak terbukti, pasien yang mayoritas orang Cina sepertinya mengonsumsi berton-ton produk ini. Masalahnya adalah, kita tidak tahu persisnya berapa banyak.

“Terus-menerus ada transparansi yang kurang dalam hal jumlah pasokan sisik tenggiling yang dimiliki pemerintah atau entitas swasta di Cina,” tulis Chris Hamley, juru kampanye tenggiling senior di EIA, dalam sebuah email. “Juga tidak ada informasi tentang perkiraan jumlah sisik tenggiling yang dikonsumsi populasi Cina dalam jangka waktu yang spesifik.”

“Rentetan pengiriman-pengiriman sisik tenggiling besar multi-ton yang terdeteksi oleh penegak hukum di Asia menunjukkan bahwa suplai sisik tenggiling dari suplai yang terekam tidak bisa memenuhi permintaan.”

II

Kamerun

Pada tahun 2017, Kamerun melarang perdagangan tenggiling. Tetapi meskipun para penegak hukum dan aktivis di negara Afrika Tengah tersebut terus berusaha, kami menemukan bahwa bisnis perdagangan tenggiling tetap tumbuh secara terang-terangan di beberapa daerah pedesaan. Daging tenggiling bisa ditemukan di banyak rumah makan kecil sepanjang jalan tol dan berbagai pasar.

Di sebuah kota kecil yang bernama Djoun, enam jam perjalanan mobil menuju selatan dari Younde, kami bertemu seorang perempuan bernama Mango. Ia memiliki restoran yang menjual daging hewan-hewan liar di Afrika, termasuk tenggiling.

Tetapi ia lebih dikenal karena bisnis sampingannya sebagai pedagang sisik tenggiling. Ia mengoleksi sisik tenggiling dalam jumlah besar dari pemburu liar untuk mensuplai klien-klien di kota-kota besar seperti Yaounde dan Douala, yang berurusan dengan klien-klien Cina di sana.

“Saya tahu itu ilegal,” katanya, “tetapi bisnisnya menguntungkan.”

Di daerah pedesaan Kamerun, tenggiling masih diperdagangkan secara terbuka.


Sisik tenggiling dijual kepada pedagang di kota-kota besar, Yaounde dan Douala.


Tenggiling kemudian diselundupkan ke luar negeri melalui penerbangan kargo atau penerbangan komersil.

ABONG MBANGBERTOUAMINDOUROULOMIEDJOUM DOUALAYAOUNDE BANDARA INTERNASIONALDOUALABANDARA INTERNASIONALYAOUNDÉ NSIMALEN

Di daerah pedesaan Kamerun, tenggiling masih diperdagangkan secara terbuka.

Sisik tenggiling dijual kepada pedagang di kota-kota besar, Yaounde dan Douala.

Tenggiling kemudian diselundupkan ke luar negeri melalui penerbangan kargo atau penerbangan komersil.

Kami mendengar bahwa di pasar harga sisik tenggiling tiga tahun lalu sekitar $5 sampai $10 per kilogram. Sejak itu, harganya telah naik menjadi $15.

Berdasarkan wawancara dengan Mango dan beberapa kompetitor dia, pada umumnya ada pembagian tugas antara keluarga-keluarga pemburu seperti keluarga Mango. Para suami memburu tenggiling sementara istri-istri mereka menjualnya.

Perantara lokal berkeliling suatu daerah dan bertemu dengan perempuan-perempuan seperti Mango di rumah mereka lalu membeli hasil tangkapan keluarga mereka. Para perantara itu kemudian mengirimkan total tangkapan ke pengusaha-pengusaha, yang biasanya orang Asia, di kota-kota yang lebih besar. Menurut pemburu lokal dan aktivis margasatwa, pengusaha kemudian menyelundupkan produk tersebut ke Asia.

Para perantara menyembunyikan sisik tenggiling di truk-truk yang melintas sepanjang rute-rute penyelundupan untuk menghindari deteksi penegak hukum. “Dulu orang-orang menggunakan kendaraan-kendaraan kecil untuk menyelundupkan sisik tenggiling dari satu daerah ke daerah lain, tetapi sekarang kebanyakan menyimpan sisik dalam truk-truk berat untuk menghindari perhatian,” kata Mango.

Tenggiling hidup dijual di pasar hewan di Kamerun. Foto: Paul Anu/Green Echoes.

Karena sebagian besar perbatasan selatan Kamerun dengan Nigeria kini ditutup, penyelundup lebih sering menggunakan pengiriman kargo lewat udara. Douala, suatu kota dengan penduduk Cina yang cukup banyak, adalah area yang disukai untuk menyelundupkan sisik ke luar Kamerun, kata para aktivis dan penegak hukum lokal.

Setelah banyaknya laporan tentang penangkapan dan penahanan, lebih sedikit orang berbicara terbuka mengenai perdagangan ilegal tenggiling.  

Dampak permintaan yang tinggi mulai terlihat. Di daerah pedesaan Mindourou, kami bertemu Danielle, juru masak yang telah mengolah tenggiling dan menjual makanan kepada orang-orang yang melintas di rute panjang selama lebih dari 10 tahun. Menurutnya, tenggiling semakin susah untuk didapatkan karena maraknya perburuan liar.

Di kota Bertoua, enam jam perjalanan darat di timur Younde, kami bertemu pedagang yang bersikeras akan meneruskan perdagangan mereka meski dengan risiko penjara. “Pembunuhan tenggiling tidak akan berhenti,” kata seorang pedagang perempuan bernama Mondi. “Masyarakat bergantung pada hutan sebagai sumber penghidupan.”

III

Nigeria

Kota Cina di Lagos, Nigeria, memiliki tembok-tembok dengan warna merah terang—yang dicat agar mirip Tembok Raksasa Cina—juga bendara Nigeria dan RRC. Di atas gerbang masuk ditemukan karakter Mandarin 中国商城, yang berarti “Kota Bisnis Cina.” 

Toko-toko yang dimiliki orang Cina menjual beragam produk, dari pakaian, buku sampai peralatan mesin. 

“Saya punya alasan kuat untuk mencurigai bahwa sebagian sisik mungkin disimpan di sana sebelum dikirim ke luar negeri,” kata Olajumoke Morenikeji, seorang ahli biologi lingkungan dan profesor di Universitas Ibadan.

Morenikeji, yang pernah menjadi direktur Taman Margasatwa Universitas Ibadan, telah mempelajari selama bertahun-tahun bagaimana para pedagang Cina telah mengambil alih pasar tenggiling karena mereka membayar dengan harga yang lebih tinggi dari kompetitor lokal.

Pintu masuk ke Kota Bisnis Cina, Kota Cina di Lagos, di mana tempat-tempat usaha yang kebanyakan dimiliki penduduk keturunan Cina sering didatangi oleh warga lokal dan warga negara RRC. Foto: Samuel Ogundipe/Premium Times.

Menurut Monikeji, pemburu lokal ditawarkan 5,000-10,000 naira Nigeria untuk seekor tenggiling, atau sekitar $14-28. “Itu adalah jumlah yang banyak di Nigeria,” katanya. Ia menambahkan bahwa kebanyakan pedagang lokal tidak sadar bahwa perantara meraup untung yang jauh lebih banyak dengan mengeskpor ke Cina.

“Para pemburu berburu di alam liar atau di hutan, biasanya semalaman, dan menjual ke perantara yang tahu bagaimana menjual [hasil perburuan] ke pasar-pasar di perkotaan,” katanya. “Dari pasar-pasar perkotaan inilah orang Cina mengambil alih produknya dengan menawarkan negosiasi yang lebih baik daripada orang lokal.”

Juga telah ada beberapa kasus di mana pedagang Cina pergi ke daerah-daerah pedesaan yang terpencil untuk mencari produk tersebut sendiri, kata Monikeji, yang pernah secara tidak sengaja berhadapan dengan perantara di kota Ikira yang jaraknya cukup dekat.

Dari Nigeria, sisik tenggiling diselundupkan ke Cina, seringkali dengan menggunakan kontainer yang diberikan label palsu. Inilah yang disita secara besar-besaran di Singapura dan Vietnam pada awal tahun ini.

Ada kasus lain yang terjadi baru-baru ini di mana sekitar 120 kilogram sisik yang disembunyikan di peralatan mesin yang rusak ditemukan ketika sedang dalam perjalanan ke Antwerp, Belgia, menurut pejabat lokal yang tidak punya kewenangan untuk dikutip.

Kami bertanya kepada bea cukai Nigeria mengenai penyitaan sisik mereka. Pada tahun 2018, mereka menyita 6.2 ton gading gajah dan sisik tenggiling dalam 10 operasi. Antara Januari dan Juni tahun ini mereka menyita 667 kilogram gading dan sisik tenggiling. Mereka tidak menyediakan angka yang terpisah.

“Sekitar 50 ton sisik tenggiling Afrika ilegal telah disita di seluruh dunia dalam empat bulan terakhir,” kata Peter Knights, CEO kelompok advokasi WildAid. “Dalam pengiriman yang memuat baik tenggiling dan gading, sisik tenggiling sekarang telah melampaui volume gading.”

Perempuan yang kami temui di suatu pasar di Lagos adalah salah satu pedagang yang secara terang-terangan menjual sisik tenggiling di sana. Foto: Samuel Ogundipe/Premium Times.

Wawancara yang kami lakukan di pasar-pasar hewan liar lokal meneguhkan informasi bahwa permintaan dari Cina yang semakin tinggi tengah menggeser para pedagang lokal. “Orang-orang Cina telah mengambil alih pasar dan membayar harga tinggi untuk mengambil seluruh sisik dari pasar lokal,” kata satu pedagang di Pasar Ketu di Lagos tentang kompetitor-kompetitornya dari Cina.

Saat kami bertemu dengannya, ia memiliki sekitar 1.5 kilogram sisik yang tersisa di tokonya, yang dijual seharga 10 ribu naira Nigeria. Semua pedagang yang berbicara dengan kami mengaku tidak tahu bahwa memperdagangkan tenggiling di Nigeria ilegal. “Nenek moyang kami telah menggunakan tenggiling dan hewan liar lainnya untuk membuat obat dan menyembuhkan orang, dan kami tidak akan berhenti sekarang,” katanya.

“Saya telah melakukan bisnis ini selama bertahun-tahun,” kata seorang perempuan di Pasar Ketu. “Anak perempuan saya sekarang 23, dan ia dilahirkan [untuk terjun ke perdagangan tenggiling], tetapi saya tidak pernah mendengar bahwa menjual hewan yang ditangkap di alam liar adalah ilegal.”

Di Pasar Ijora, dekat telaga Lagos, banyak pedagang berkata mereka telah kehabisan pasokan beberapa bulan terakhir ini akibat permintaan dari Cina. Mereka menyesali keadaan bahwa sisik tidak lagi masuk ke pasar-pasar mereka, tetapi langsung dibeli oleh orang-orang dari Cina.

IV

Malaysia

Dalam sebuah gubug bambu sederhana di sepetak tanah kosong di antara pepohonan hutan tropis, kami berbagi suguhan berupa tupai hutan dan tapioka dengan tuan-tuan rumah kami. Mereka dari masyarakat adat Temiar, yang tanahnya berada pada ujung utara tulang punggung hutan utama Semenanjung Malaysia.

Ketika mereka memperlihatkan tupai yang akan menjadi santapan malam kami, yang telah mati kena panah beracun, kami dilarang tertawa atau mengucapkan lelucon. Mereka tidak memberikan alasan, tetapi kesan yang kami dapat adalah bahwa larangan tersebut merupakan tanda penghormatan terhadap fungsi hutan dan margasatwanya.

Pembicaraan kami dengan masyarakat-masyarakat adat mengonfirmasi bahwa permintaan untuk tenggiling telah menyusup bahkan sampai desa-desa terpencil di hutan Malaysia. “Dulu, kalau kami ingin makan tenggiling, kami akan memburunya,” kata seorang pemburu lokal. “Kami tidak berburu dan makan [tenggiling] setiap saat.”

Menurut masyarakat Temiar, tenggiling bisa mengusir gajah, suatu kemampuan yang didapatkan saat seekor tenggiling membungkus gading gajah dengan tubuhnya dan tidak melepaskan diri, sampai pada akhirnya gajah terbunuh. Sejak saat itu, kata orang-orang Temiar, gajah cenderung menghindari tenggiling. Diketahui juga bahwa kelompok-kelompok adat lain menganggap bahwa ada hubungan antara tenggiling dan fetus manusia karena mereka percaya bahwa hewan tersebut adalah reinkarnasi plasenta manusia.

Masyarakat-masyarakat adat yang tinggal di hutan Malaysia biasanya hanya berburu tenggiling kalau ada tuntutan dari pembeli dari daerah lain. Harga bervariasi, tergantung pembeli dan musim. Tenggiling bisa dijual seharga sampai 600 ringgit (US$143) per kilogram Foto: Elroi Yee/RAGE.

Tenggiling adalah hewan yang sangat kaya akan mitologi sehingga beberapa penduduk desa yang berbicara dengan kami menceritakan tradisi-tradisi oral yang melarang memburu dan mengonsumi hewan itu. Para pemburu yang berbicara dengan kami berkata bahwa mereka baru-baru ini berhenti memburu tenggiling karena para tetua adat berkeberatan, meskipun ini berarti pendapatan mereka berkurang.

“Saat ada orang luar yang ingin membeli dari kami baru kami berburu dan menjualnya. Kalau tidak ada pembeli, kami tidak akan berburu [tenggiling],” kata seorang pemburu.

Meskipun masyarakat-masyarakat adat ini hidup dari hutan dan hanya punya hubungan yang lemah dengan ekonomi keuangan arus utama, perdagangan tenggiling masih dipengaruhi kekuatan pasar. Para pembeli menawarkan pemburu harga yang berbeda, dan harganya bervariasi tergantung musim. Pemburu hanya berusaha menjual ke pembeli yang menawarkan harga tertinggi.

“Di masa lampau, harganya sekitar 300 ringgit per kilogram,” kata seorang pemburu. “Kadang-kadang sampai 350 ringgit, bahkan sampai 600 ringgit.” Harga tertinggi yang disebutkan sama dengan sekitar $143.

“Tetapi sekarang harganya sekitar 100 ringgit per kilogram, mungkin 150 atau 50 ringgit per kilogram. Kalau kami mendengar bahwa harganya 50 ringgit per kilogram, kami tidak akan repot-repot. Tetapi kalau kami mendengar bahwa harganya 300 ringit, itulah saatnya kami pergi berburu.”

Dua pemburu dari masyarakat adat Temiar di Malaysia Barat berpose dengan seekor tenggiling yang baru saja mereka tangkap satu hari sebelumnya. Meskipun para peneliti seringkali menganggap tenggiling susah ditemukan dan dipelajari, pengetahuan mendalam pemburu-pemburu lokal tentang hutan dan margasatwanya menjadikan mereka mampu melacak tenggiling hanya dengan mengenali dan menelusuri jejaknya. Tenggiling ini lalu dilepaskan. Foto: Puah Sze Ning/RAGE.

“Permintaan untuk tenggiling dari Cina ini awalnya menghabiskan semua tenggiling di Cina, menjadikannya punah secara komersil di sana,” kata Dr. Chong Ju Lian, seorang dosen di Universitas Terengganu Malaysia, yang sudah terlibat dalam penelitian tenggiling sejak 2009.

“Lalu sekitar tahun 2006 atau 2007, kami melihat adanya peningkatan dalam penyitaan tenggiling di Malaysia. Banyak berita dia media tentang penyelundup tenggiling yang dihentikan oleh pihak berwenang, dan ingat bahwa sebagian besar penyelundupan tidak terdeteksi.”

Ia menemukan bahwa permintaan untuk tenggiling telah bergesar ke negara-negara Afrika, hal yang sudah diprediksikan oleh dia dan peneliti-peneliti lain ketika mereka berhasil melobi agar ke-delapan spesies tenggiling yang ada diberikan klasifikasi baru dalam Appendiks I di daftar perdagangan International Union of Conservation and Nature (IUCN)—langkah yang melarang semua perdagangan komersil tenggiling.

“Inilah kenapa kami bersikeras menyertakan empat spesies Afrika dalam reklasifikasi tersebut, meskipun saat itu mereka tidak dinilai terancam punah.”

Berdasarkan pembicaraan Dr. Chong dengan masyarakat-masyarakat adat, ia berpendapat bahwa perburuan liar telah membawa populasi tenggiling Malaysia ke gerbang kepunahan.

“Beberapa pemburu lokal berkata mereka tidak pernah melihat tenggiling dalam tiga tahun terakhir,” katanya. “Perantara masih bersedia membeli, tetapi memburu tenggiling tidak lagi semenarik dulu hanya karena sekarang susah mendapatkannya.”

V

Thailand

Di samping kedai makan di pinggir jalan, lalu lintas malam hari yang sepi melintas. Semua terlihat diwarnai jingga oleh lampu-lampu jalan. Kami berada di Malaysia, 40 jam berkendaraan dari perbatasan Thailand.

Penyelundup tenggiling yang kami temui sambil menyamar tiba dengan anak perempuannya yang berusia enam tahun. Ini adalah adegan yang tidak masuk akal—anak itu, yang berpakaian seperti seorang putri kerajaan, lengkap dengan sebuah tiara; ayahnya, seorang penyelundup tenggiling dan entah apa lagi.

“Baiklah, saya jelaskan,” kata si ayah. “Barangnya datang dari Indonesia, dan para towkay, mereka menawarkan harga untuk barangnya.” Ia menggunakan istilah lokal untuk “pembeli” atau “bos”.

“Barang dari Indonesia paling tidak satu ton. Jadi, satu ton barang dan penawaran dimulai. Harga mulai dari 300 ringgit per kilogram. Jadi, berapa kamu bisa bayar?” Ia berisyarat ke salah satu dari kami. “OK, yang ini mau bayar 310 ringgit.” Ia lalu menunjuk ke orang lain di antara kami. “Lalu yang ini mau bayar 320 ringgit. Dan ada orang lain yang mau membayar 350 ringgit.”

“Jadi yang menawarkan 350 ringgit akan mendapatkan barangnya.” (Harga yang ia sebutkan setara dengan $84.)

Dalam waktu empat bulan, kami berbicara dengan beberapa orang yang terlibat penyelundupan margasatwa seperti orang ini, dari penyelundup, perantara, sampai pemburu liar. Sebagian wawancara kami lakukan di bawah samaran, dengan mengaku sebagai pedagang. Wawancara-wawancara ini memperlihatkan bahwa perdagangan tenggiling bawah tanah telah tumbuh menjadi pasar terbuka, meskipun ilegal. Kompetisinya sengit, dan kekuatan pasarlah yang menetapkan harga. Inovasi membedakan mereka yang berada di puncak.

Seekor tenggiling diselamatkan dari seorang pedagang margasatwa saat kami melakukan penyelidikan undercover. Tenggiling itu lalu dilepaskan dalam hutan oleh Departemen Margasatwa dan Taman Nasional Semenanjung Malaysia.

Permintaan luar biasa untuk tenggiling memotori perdagangan ilegal yang seringkali tidak terdeteksi oleh penegak hukum lokal. Kadang-kadang sebabnya adalah korupsi, sebagaimana dibuktikan oleh orang di depan kami ini, yang selain seorang penyelundup juga seorang petugas polisi. Ia meminta agar namanya tidak disebut.

Sebelumnya, kami bertemu dengannya di pengadilan magistrasi, di mana ia sedang disidang karena memiliki 81 tenggiling hidup.

Menurut polisi-penyelundup tersebut, pasar tenggiling sangat kompetitif sehingga sindikat-sindikat yang ada saling mengkhianati agar bisa unggul.

“Jadi, orang yang menawarkan 350 ringgit mendapatkan barangnya, tetapi yang lain tahu bahwa barang itu akan tiba,” kata dia. “Mereka mungkin tidak tahu persisnya kapan, tetapi mereka tahu akan datang minggu ini, minggu depan, atau tiga hari lagi. Jadi mereka siap.”

Yang dimaksud dengan “siap” adalah mereka siap menyabotase pedagang yang memenangkan lelang. Menurutnya, inilah alasan ia sampai ditangkap. Seseorang dari sindikat rival membocorkan informasi ke petugas margasatwa.

“Saat barangnya tersedia, mereka sudah punya target mereka,” katanya. “Sebenarnya saya sudah pernah menyabotase seseorang dari tim mereka.”

Sumber-sumber yang dekat dengan penyelidikan yang tengah berlangsung berkata bahwa pasar tenggiling dimotori oleh harga, dan sindikat yang membayar harga paling tinggilah yang mendominasi pasar.

Penyelidikan menunjukkan bahwa tenggiling hidup dari Indonesia biasanya masuk lewat kapal yang mendarat di sepanjang pesisir Selat Malaka, sebelum ditransport menuju utara dengan mobil, melewati perbatasan Thailand.

Selat Malaka adalah rute penyelundupan tenggiling utama. Para penyelundup dan sumber-sumber kami dari kalangan penegak hukum berkata bahwa tenggiling hidup biasanya ditransport dalam kapal berukuran kecil-medium, yang kemudian berlabuh di lokasi-lokasi tersembunyi sepanjang pesisir Malaysia.


Tenggiling juga diambil dari hutan-hutan atau area perkebunan di Malaysia.


Tenggiling dibeli bersamaan di titik-titik pengumpulan sebelum ditransport ke Thailand. Dari Thailand, tenggiling kemudian dikirim ke Laos, lalu Vietnam dan Cina.

SELAT MALAKA CENTRAL FOREST SPINE RANTAU PANJANGBUKIT KAYU HITAMPADANG BESAR

Selat Malaka adalah rute penyelundupan tenggiling utama. Para penyelundup dan sumber-sumber kami dari kalangan penegak hukum berkata bahwa tenggiling hidup biasanya ditransport dalam kapal berukuran kecil-medium, yang kemudian berlabuh di lokasi-lokasi tersembunyi sepanjang pesisir Malaysia.

Tenggiling juga diambil dari hutan-hutan atau area perkebunan di Malaysia.

Tenggiling dibeli bersamaan di titik-titik pengumpulan sebelum ditransport ke Thailand. Dari Thailand, tenggiling kemudian dikirim ke Laos, lalu Vietnam dan Cina.

Di sana, permintaan yang bertambah besar telah mentransformasi perdagangan. Petugas-petugas imigrasi telah semakin sadar akan perdangan tenggiling, dan ini memaksa penyelundup untuk menggunakan cara-cara yang lebih kompleks. Penyelundup yang menyeberangi perbatasan tadinya menyewa truk, tetapi sekarang semakin sedikit yang menggunakan kendaraan yang bisa terdeteksi, kata Somkiat Soontornpitakkool, direktur Perlindungan Flora dan Fauna di Departemen Konservasi Taman National, Margasatwa dan Tumbuhan di Thailand.

Informasi ini dikonfirmasi oleh para penegak hukum di Malaysia, yang telah menunjukkan foto kendaraan-kendaraan yang dilengkapi ventilasi AC khusus untuk menyalurkan udara sejuk ke dalam area penyimpanan atau bagasi. Karena ini, tenggiling bisa hidup lebih lama saat diselundupkan.

Para penyelundup ingin tenggiling tetap hidup karena tenggiling hidup dihargai lebih tinggi untuk dagingnya. Kami diberi tahu bahwa seringkali pelanggan ini melihat hewan tersebut saat masih hidup di restoran. Satu juru masak di restoran yang kami temui, yang dulu menyuguhkan tenggiling untuk turis-turis Cina, mengatakan bahwa praktik yang umum dilakukan adalah memotong tenggorokan tenggiling di depan pelanggan lalu menggunakan darahnya dalam masakan.

Sindikat-sindikat menyelundupkan tenggiling di kendaraan-kendaraan yang dilengkapi ventilasi pendingin udara di bagian penyimpanan agar ewan-hewan bisa hidup lebih lama. © Departemen Margasatwa dan Taman Nasional, Malaysia.

“Rute-rute penyelundupan pada umumnya menuju propinsi-propinsi dekat Sungai Mekong di timur laut Thailand—Nakorn Phanom, Mukdahan, dan Nongkhai—sebelum menuju Laos, dan kemudian ke Vietnam dan Cina,” kata Somkiat.

Di dekat perbatasan, penyelundup profesional disewa untuk mengirim barang melewati perbatasan. Menurut penyelidikan, anggota polisi dan badan penegak hukum lain juga terlibat. Sejak 2012, tiga polisi Malaysia telah ditangkap karena menyelundupkan tenggiling, termasuk satu petugas yang ditangkap dua kali. Ketiganya dulu bekerja, atau masih bekerja, di kantor polisi yang sama, yaitu markas kepolisian Kedah.

Sept 2012 : Polisi bernama Mohammad Norazzuan Ahmad Zahari ditahan di lokasi yang tidak disebut di negara bagian Kedah, kemungkinan besar dekat perbatasan, memiliki 18 tenggiling hidup.

Nov 2014 : Mohammad Norazzuan Ahmad Zahari lagi-lagi ditangkap di pos perbatasan Bukit Kayu Hitam; 43 tenggiling hidup ditemukan di bagasi mobilnya.


Alor Setar

Sept 2018 : Seorang petugas polisi ditahan dengan 81 tenggiling hidup di sebuah rumah yang disewa atas nama dia sendiri. Persidangan masih berlangsung.


POS BEA CUKAI SADAO

Feb 2019 : Petugas polisi bernama Ahmad Nasrul Hafifi Mohammad ditangkap di pos imigrasi Sadao setelah melewati pos perbatasan Malaysia, dengan 47 tenggiling ditemukan di mobilnya.

MARKAS BESAR POLISI KEDAH

Ketiga petugas polisi bekerja di markas polisi Kedah. Penyelidikan menunjukkan bahwa ada ring penyelundupan yang dipimpin oleh anggota kepolisian dan petugas-petugas dari badan penegak hukum lain.

POS BUKIT KAYU HITAM ALOR SETAR POS BEA CUKAI SADAO MARKAS POLISI KEDAH

Pos Bukit Kayu Hitam

Sept 2012 : Polisi bernama Mohammad Norazzuan Ahmad Zahari ditahan di lokasi yang tidak disebut di negara bagian Kedah, kemungkinan besar dekat perbatasan, memiliki 18 tenggiling hidup.

Nov 2014 : Mohammad Norazzuan Ahmad Zahari lagi-lagi ditangkap di pos perbatasan Bukit Kayu Hitam; 43 tenggiling hidup ditemukan di bagasi mobilnya.

Alor Setar

Sept 2018 : Seorang petugas polisi ditahan dengan 81 tenggiling hidup di sebuah rumah yang disewa atas nama dia sendiri. Persidangan masih berlangsung.

POS BEA CUKAI SADAO

Feb 2019 : Petugas polisi bernama Ahmad Nasrul Hafifi Mohammad ditangkap di pos imigrasi Sadao setelah melewati pos perbatasan Malaysia, dengan 47 tenggiling ditemukan di mobilnya.

MARKAS BESAR POLISI KEDAH

Ketiga petugas polisi bekerja di markas polisi Kedah. Penyelidikan menunjukkan bahwa ada ring penyelundupan yang dipimpin oleh anggota kepolisian dan petugas-petugas dari badan penegak hukum lain.

Kami diperlihatkan bukti oleh sumber di pemerintahan yang menghubungkan 12 petugas penegak hukum ke perdagangan tenggiling, yang berarti bahwa ada jaringan korupsi yang lebih luas.

Para petugas ini termasuk polisi lalu lintas dan petugas perbatasan yang berpangkat tinggi. Kebanyakan berbasis di Kedah, negara bagian di selatan yang berbatasan dengan Thailand.

“Kami menanggapi ini dengan serius,” kata Kepala Kepolisian Kedah Zainuddin Yaacob, saat ditanya tentang bukti korupsi di kalangannya.

“Kalau [petugas kepolisian] dituntut atau diputuskan bersalah, maka kami akan bertindak dengan cara menskors mereka. Kalau mereka ditemukan bersalah atas tindakan kriminal, maka tidak ada pilihan lain selain memecat mereka dari dinas.”

Meskipun kebanyakan tenggiling hidup yang melewati Malaysia sekarang berasal dari Indonesia, dulu sindikat-sindikat juga mengambil mereka dari hutan-hutan di Malaysia.

“Dulu, saya mentransport banyak suplai, ratusan keranjang,” ujar seorang pedagang tenggiling, menyombong. “Saya tidak bohong, paling tidak tiga ton dalam sebulan, dikirim langsung ke pintu saya.” Pedagang tersebut adalah seorang perantara yang sebelumnya memasok tenggiling dari masyarakat-masyarakat adat yang tinggal di hutan. Ia mengklaim telah meninggalkan perdagangan tenggiling sejak ia ditangkap pada tahun 2014.

“Suplai di Malaysia sekarang sudah berkurang, jadi mereka bergantung pada suplai dari Indonesia,” katanya.

Di Sabah, Malaysia Timur, ada sindikat penyelundup yang terkenal sebagai satu-satunya yang diketahui mengirim tenggiling yang sudah diproses dan dibekukan.

Operasi pada bulan Februari 2019 di Kota Kinabalu, Sabah, di dua tempat yang dipimpin oleh sindikat yang sama kemudian menemukan total 27.9 ton trenggiilng yang sudah dibersihkan sisik dan isi perutnya, dan dibekukan dalam kulkas pembeku yang besar. Selain itu, 361 kilogram sisik tenggiling menjadikan operasi tersebut penyitaan tenggiling yang terbesar dalam sejarah.

Cara tenggiling-tenggiling itu dibungkus memperlihatkan bahwa mereka kemungkinan besar akan diekspor, mungkin ke Cina, menurut sumber kami yang tahu tentang penyelidikan yang tengah berlangsung.

Juga ada tanda-tanda bahwa sindikat ini telah beroperasi selama bertahun-tahun.

Pada tahun 2010, seorang lelaki Malaysia ditangkap di pesisir Zhuhai, suatu kota pelabuhan di Cina bagian selatan, karena mengirim hampir 10 ton tenggiling dan sisik tenggiling beku di kapal nelayan. Ia dihukum penjara seumur hidup, meskipun hukumannya kemudian dikurangi menjadi 19 tahun karena kelakukan baik. Empat anggota awak kapal tersebut, yang semuanya warga negara Cina, dihukum 5-10 tahun penjara.

(1 & 2) Penyergapan polisi pada Februari 2019 menemukan hampir 30 ton tenggiling beku dan sisik tenggiling di kedua lokasi ini. Sumber-sumber menunjukkan bahwa tenggiling kemungkinan diekspor dengan kapal dari (3) Pelabuhan Sepanggar ke Cina. (4) Lokasi di mana kepolisian Cina mencurigai tenggiling dibawa ke kapal pengiriman yang kemudian disita di Guangzhou dalam kasus pada 2010. Koordinat ini ditemukan lewat telepon penyelundup yang dipenjara di Cina.

Penyelidikan menunjukkan bahwa telepon genggam orang itu mengandung koordinat-koordinat yang berhubungan dengan perdagangan, termasuk koordinat untuk suatu lokasi lepas pesisir Sabah, di dekat Pelabuhan Sepanggar di Kota Kinabali. Ini adalah area pelabuhan di mana penyitaan terbesar terjadi pada Februari 2019.

Wawancara yang dilakukan dengan istri orang ini mengonfirmasi bahwa ia terlibat penyelundupan tenggiling dan berbasis di Kota Kinabalu.

Istrinya bersikeras bahwa sang suami bukan otak operasi dan hanya bekerja untuk suatu sindikat yang dipimpin pengusaha ternama yang berkecimpung dalam bisnis “makanan hasil laut beku.” 

Orang-orang yang tahu tentang penyelidikan ini berkata bahwa polisi tengah menyelidiki apakah sindikat yang sama berada di balik kasus-kasus pada tahun 2010 dan 2019.

VI

Indonesia

Sisik dan daging tenggiling yang disita. Transfer uang. Pengiriman ke Cina. Bocoran informasi. Ini adalah petunjuk-petunjuk bahwa ada jaringan penyelundup tenggiling di Indonesia. Sanggahan. Kebungkaman. Kurangnya bukti langsung yang bisa mengubah kebetulan-kebetulan aneh menjadi bukti yang kuat. Ini adalah tantangan yang dihadapi penegak hukum dan kami dsendiri ketika kami menyelidiki perdagangan tenggiling di Indonesia.

Peninjauan rekam pengadilan, lusinan wawancara dengan pemburu dan petugas kepolisian telah memberikan indikasi yang sangat jelas. Meskipun begitu, perdagangan tenggiling di negara kepulauan ini telah menjadi pekerjaan yang profesional. Perdagangan ini telah menjadi begitu canggih sehingga para ahli teringat akan perdagangan obat-obatan terlarang.

Di Sumatera, Jawa, dan Kalimanta, tenggiling menyediakan keseimbangan ekosistem yang sangat penting. Mereka mengonsumsi hama yang menjangkit tanaman seperti sawit. Meskipun begitu, sindikat di daerah-daerah ini “melakukan perburuan dalam  skala masif selama transisi antara musim hujam dan kemarau,” kata Sustyo Iriyono, pejabat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memimpin perlawanan terhadap perdagangan ilegal tenggiling, dalam sebuah wawancara.

Indonesia map V2 no text

102 tenggiling disita - Nov 2015

102 tenggiling disita di sini, pada saat penyelundup akan mengangkutnya ke Malaysia lewat Selat Malaka. Sembilan tenggiling mati di sini.

128 tenggiling disita - Feb 2013

Tim patroli laut Kantor Bea dan Cukai Belawan (KPPBC) menyita 128 tenggiling saat sedang diselundupkan ke Malaysia melalui Selat Melaka.

Lebih dari satu ton tenggiling disita - Juni 2017

Lebih dari satu ton tenggiling hidup, bagian-bagian tubuh tenggiling, serta sisiknya disita di sebuah gudang di Sumatera Utara. Dalam gudang ini, ditemukan sekitar 225 tenggiling hidup, lima karung besar tenggiling basah, dan empat karung besar kulit tenggiling kering.

102 tenggiling disita - 2013

Sebanyak 102 tenggiling hidup disita di dalam sebuah kapal di Pelabuhan Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Seorang kapten dan empat awak kapal juga ditangkap. Kapten kapal itu mengaku bahwa ia diperintahkan untuk mengangkut tenggiling ke Malaysia.

Mei 2014

Dua orang ditangkap ketika mencoba menyelundupkan empat tenggiling ke Malaysia dengan kapal dari Pelabuhan Tanjung Balai.

101 tenggiling disita - 24 Oct 2017

Sebanyak 101 tenggiling disita oleh anggota TNI Angkatan Laut saat tenggiling-tenggiling itu diselundupkan ke Malaysia melalui kapal.

89 tenggiling disita - Unspecified date

Polisi menggagalkan rencana penyelundupan 89 tenggiling ke Malaysia. Empat orang yang berasal dari Sumatera Selatan ditetapkan sebagai tersangka. Tenggiling diangkut melalui darat dengan dua mobil ke sebuah pelabuhan kecil di Pulau Bengkalis di mana tenggiling itu kemudian diselundupkan ke Malaysia dengan kapal.


Selat Malaka telah menjadi lokasi panas untuk penyelundupan tenggiling ke Malaysia. Analisis kasus yang dilaporkan di media menunjukkan modus operandi yang konsisten: tenggiling hidup ditransport menyeberangi selat dalam kapal-kapal kecil.

Klik untuk detail


Indonesia map V2 no textLebih dari satu ton tenggiling disita - Juni 2017Lebih dari satu ton tenggiling hidup, bagian-bagian tubuh tenggiling, serta sisiknya disita di sebuah gudang di Sumatera Utara. Dalam gudang ini, ditemukan sekitar 225 tenggiling hidup, lima karung besar tenggiling basah, dan empat karung besar kulit tenggiling kering.102 tenggiling disita - 2013Sebanyak 102 tenggiling hidup disita di dalam sebuah kapal di Pelabuhan Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Seorang kapten danempat awak kapal juga ditangkap. Kapten kapal itu mengaku bahwa ia diperintahkan untuk mengangkut tenggiling ke Malaysia.Mei 2014Dua orang ditangkap ketika mencoba menyelundupkan empat tenggiling ke Malaysia dengan kapal dari Pelabuhan Tanjung Balai.101 tenggiling disita - 24 Oct 2017Sebanyak 101 tenggiling disita oleh anggota TNI Angkatan Laut saat tenggiling-tenggiling itu diselundupkan ke Malaysia melalui kapal.89 tenggiling disita - Unspecified datePolisi menggagalkan rencana penyelundupan 89 tenggiling ke Malaysia. Empat orang yang berasal dari Sumatera Selatan ditetapkan sebagai tersangka. Tenggiling diangkut melalui darat dengan dua mobil ke sebuah pelabuhan kecil di Pulau Bengkalisdi mana tenggiling itu kemudian diselundupkan ke Malaysia dengan kapal. 128 tenggiling disita - Feb 2013 Tim patroli laut Kantor Bea dan Cukai Belawan (KPPBC) menyita 128 tenggiling saat sedang diselundupkan ke Malaysia melalui Selat Melaka. 102 tenggiling disita - Nov 2015 102 tenggiling disita di sini, pada saat penyelundup akan mengangkutnya ke Malaysia lewat Selat Malaka. Sembilan tenggiling mati di sini.

Selat Malaka telah menjadi lokasi panas untuk penyelundupan tenggiling ke Malaysia. Analisis kasus yang dilaporkan di media menunjukkan modus operandi yang konsisten: tenggiling hidup ditransport menyeberangi selat dalam kapal-kapal kecil.

Klik untuk detail

Di sini, para penyelidik biasanya menargetkan pemburu dan mencoba meraih sindikat melalui penjual dan perantara. Tetapi mereka jarang berhasil.

Premium perdagangan memberikan banyak ruang bagi perantara. Di Indonesia, seorang pemburu mungkin bisa mendapatkan sekitar $20 untuk satu kilogram daging tenggiling. Daging itu bisa dijual seharga $1,200 di tempat lain. Harga sisik tenggiling melejit 30 kali lipat sepanjang rantai perdagangan.

Sustyo memperkirakan bahwa Indonesia adalah eksportir ilegal daging dan sisik tenggiling terbesar di dunia, meskipun tenggiling di Indonesia tidak bisa berkompetisi dengan subspesies di Afrika dari segi ukuran. Pengiriman biasanya menuju Cina, terkadang melalui Vietnam dan Hong Kong.

Seekor bayi tenggiling yang menuju Malaysia diselamatkan oleh polisi di Medan, Indonesia. Lusinan tenggiling yang disita dalam penangkapan yang sama lalu dilepaskan ke alam liar. Lainnya diberikan ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Foto: Tommy Apriando/Tempo, Mongabay.

Saat ditanya tentang rute-rute penyelundupan, ia berkata bahwa jaringan-jaringan perdagangan tenggiling telah menjadi “sangat terorganisir”.

“Di masa lampau, penyelundup menggunakan pesawat kargo,” katanya. “Setelah ini ditemukan, mereka mulai mengubah daftar muatan kontainer pengiriman. Tenggiling disembunyikan di tengah komoditas ekspor seperti cumi dan ikan yang sudah dikeringkan. Beberapa menghindari deteksi dengan cara melewati pelabuhan-pelabuhan kecil, dengan menggunakan kapal-kapal nelayan.”

Kami menelusuri penyitaan-penyitaan yang terjadi baru-baru ini di dekat Medan, kota terbesar di Sumatera, dan menemukan indikasi jaringan perdagangan yang besar.

Kota pelabuhan ini sudah diketahui sebagai pusat penyelundupan utama. Juru bicara Polri Brig. Gen. Dedi Prasetyo, memberi tahu kami bahwa Medan di Sumatera Utara, Surabaya di Jawa timur, dan Pontianak di Kalimantan bagian barat adalah lokasi-lokasi transfit penyelundupan tenggiling yang paling signifikan. Mereka biasanya disembunyikan di antara ikan, cumi, dan tiram yang dibekukan.

Medan, salah satu pusat transportasi paling besar di Indonesia, seringkali digunakan sebagai pintu keluar bagi penyelundup tenggiling.

Beberapa penyitaan dan kasus persidangan menunjuk kepada jaringan yang berhubungan dengan seorang pria bernama Robert Ongah. Orang yang dikenal dengan sebagai Atiam ini tidak bisa kami hubungi untuk diminta komentarnya meskipun sudah beberapa kali mencoba.

“Saya mewakili Pak Robert,” kata seorang pegawai produsen minuman beralkohol di Jakarta, menggunakan panggilan sopan. “Ia tidak ada komentar, dan seluruh pertanyaan di permintaan wawancara salah.”

Antara lain, Ongah adalah pemilik Tetap Jaya, sebuah perusahaan eksportir ikan beku yang berkantor di Medan. Ia juga mengontrol banyak bisnis lain, termasuk produsen minuman beralkohol tadi, di mana kami berbicara dengan seorang pegawainya di Jakarta. Polisi memberi tahu kami bahwa mereka melacak transfer uang yang ditujukan kepada dia sebanyak setidaknya Rp50 trilyun, atau sekitar $3.5 juta, dari orang-orang yang diduga perantara.

Menurut polisi, lebih dari setengah uang ini ditelusuri datang dari rekening-rekening Ongah dan dikirim ke akun seseorang bernama Edy Soerja Susanto. Uang ini lalu sampai ke penyalur margasatwa yang kemudian ditangkap.

Tidak ada kejelasan apakah Edy saat ini sedang diselidiki. Ketika dihubungi melalui telepon, ia menyanggah terlibat dalam perdagangan tenggiling. “Saya tidak tahu Robert Ongah,” katanya sebelum mengakhiri pembicaraan.

Para penyelidik memberi tahu kita bahwa jaringannya sepertinya lebih luas dan berhubungan dengan tindakan-tindakan kriminal lain yang lebih berbahaya. Dian Ediana Rae, wakil ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPTAK), mengatakan bahwa sebagian transaksi menghubungkan jaringan ini dengan seorang gembong narkotika dalam tahanan, Togiman.

Togiman sudah pernah diberikan hukuman mati dua kali, pada tahun 2016 dan 2017, untuk berbagai kasus narkotika, termasuk meneruskan operasinya dari dalam penjara. Saldo rekening banknya: Rp6.4 trillion, atau $458 juta.

VII

Filipina

Pada bulan Juli 2019, persidangan Filipina memvonis tiga lelaki bersalah karena telah melanggar hukum perlindungan margasatwa negara itu. Ketika ditangkap di pos di Kota Tagaytay, Cavite, sekitar 60 kilometer di selatan ibu kota Manila, mereka tengah membawa 10 tenggiling Filipina, suatu subspesies domestik.

Walaupun kasus tersebut disebut-sebut sebagai penghukuman sukses yang pertama terhadap pedagang margasatwa dari Palawan—habitat asli tenggiling Filipina—hukuman bagi kejahatan tersebut ringan. Pengadilan memvonis setiap pemburu liar tiga bulan penjara dan denda sebanyak 20 ribu peso, atau sekitar $385. Pada bulan Agustus, tiga pria tersebut keluar dengan membayar jaminan dan menyodorkan petisi agar diberikan percobaan.

Emerson Sy, direktur eksekutif Pusat Penelitian Darat dan Laut Filipina, mengatakan bahwa dengan hukuman semacam itu, hukum yang ada tidak akan bisa mencegah perburuan liar.

“Apa yang pantas diperhatikan adalah bahwa orang-orang yang sama terlibat [dalam perdagangan ilegal]. Misalnya, satu pembeli utama yang berwarga negara asing sudah berkali-kali ditangkap tetapi masih juga beroperasi. Karena hukuman bagi pedagang margasatwa ilegal—bisa keluar dengan jaminan—kalau seorang pemburu liar ditangkap, ia tinggal membayar uang jaminan lalu keluar,” kata Sy.

Sepuluh tenggiling disita penegak hukum Filipina di Kota Tagaytay pada bulan Juli 2019. Tiga pria ditangkap.© Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam, Filipina.

Sy adalah salah satu penulis laporan yang menganalisis data penyitaan di Filipina dari tahun 2001 sampai 2017. Laporan ini, yang diterbitkan pada tahun 2018 oleh TRAFFIC, sebuah NGO global yang menyelidiki perdagangan margasatwa, menemukan 38 insiden penyitaan yang melibatkan 667 tenggiling. Angka ini kecil dibandingkan dengan volume-volume yang dilaporkan di daerah lain, tetapi mengingat populasi tenggiling Filipina telah menyusut lebih dari 50 persen selama 21 tahun, ini adalah angka yang signifikan.

Menurut Sy, data penyitaan dari berbagai sumber yang mereka analisis mungkin hanya “puncak gunung es”.

“Tenggiling Filipina hanya bisa ditemukan di Filipina, di Propinsi Palawan, jadi habitatnya sangat kecil,” katanya. “Gangguan apa pun yang ditambah perburuan liar dan lainnya berdampak luar biasa pada mereka.”

Para peneliti dari TRAFFIC percaya bahwa permintaan telah meningkat dalam satu dekade terakhir. Satu faktor, kata Sy, adalah permintaan yang semakin tinggi, terutama di Metro Manila, di mana daging tenggiling dijual sebagai makanan mewah dan sisiknya dijual untuk pengobatan tradisional.

Tiga pria yang ditangkap di Kota Tagaytay menyelundupkan 10 tenggiling keluar Palawan untuk diperdagangkan secara ilegal di ibu kota.

Tetapi Sy menjelaskan bahwa di Filipina, kebanyakan orang yang mengonsumsi daging tenggiling adalah warga asing “karena [orang Filipina] tidak memiliki tradisi mengonsumsi tenggiling.” Sebagian warga lokal juga turut makan, kata Sy, tetapi hanya kalau mereka kebetulan menemukannya, karena mereka tidak akan berusaha mencari daging tenggiling.

Daging tenggiling bisa dijual seharga US$3-5 per kilogram, sementara sisik dijual seharga US$130 sampai US$190 per kilogram. Sementara itu, menurut laporan TRAFFIC, di Metro Manila tenggiling hidup atau beku dan tenggiling yang sudah dimasak dijual seharga US$233 dan US$272.

“Para pemburu liar, mereka yang memburu tenggiling, biasanya orang Filipina. Perantaranya, mereka yang pergi ke masyarakat dan meminta mereka berburu, bisa orang Filipina atau warga asing. Perantara lalu meneruskannya ke penjual atau konsolidator, yang bisa jadi orang Filipina atau warga negara asing. Konsolidator tersebut mungkin yang menjual tenggiling secara langsung, atau ada lapisan lain dari lokasi lain, misalnya, di Metro Manila. Dari titik ini, ia langsung ke pembeli,” kata Sy.

Sebagian besar penyitaan terjadi di sekitar Palawan dan di Metro Manila, di mana ada peningkatan dalam permintaan daging dan sisik tenggiling. © TRAFFIC.

Meskipun begitu, sebagaimana dikatakan oleh Sy, mereka di level-level bawah rantai penyelundupan—pemburu dan pedagang ilegal—seringkali dikorbankan dan ditangkap oleh aparat penegak hukum.

Menurut data dari Dewan Pengembangan Berkelanjutan Palawan (PCSD)—badan yang diberikan mandat untuk mengimplementasikan hukum margasatwa Filipina di propinsi tersebut—33 orang telah ditangkap karena perdagangan ilegal tenggiling dari tahun 2010 sampai 2018. Setidaknya 16 kasus kriminal diajukan dalam periode yang sama.

“Kami harus mencari mereka yang memerintahkan perburuan, mereka yang mendanainya. Karena kalau kamu tidak menangkap mereka, perburuan liar tidak akan pernah berakhir,” kata Syd.

In 2016, Filipina mengusulkan menaikkan status tenggiling Filipina ke CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendiks I. Menurut usul pemerintah, tenggiling Filipina “terancam punah dan menerima dampak buruk perdagangan internasional dan hilangnya habitat,” dan bahwa hal ini “telah didokumentasikan dalam perdagangan internasional dengan Cina, Malaysia, dan mungkin dengan Vietnam.”

Sementara itu, laporan TRAFFIC tahun 2018 mengatakan bahwa rute-rute perdagangan internasional tidak bisa ditentukan dari data penyitaan yang dianalisis para penulis karena “banyak data tidak memuat informasi latar selain lokasi penyitaan dan tipe dan jumlah bagian-bagian tenggiling yang disita.”

“Warga-warga negara asing (misalnya dari daratan Cina dan Taiwan) yang berdomisili di negara ini juga dinyatakan terlibat dalam beberapa penyitaan,” menurut laporan tersebut, yang juga menambahkan bahwa tetap tidak jelas “apakah ini untuk memasok pasar lokal yang melayani turis dan/atau warga negara asing yang tinggal di negara ini atau pasar internasional.”

Sy menjelaskan bahwa meskipun begitu, permintaan lokal untuk sisik tenggiling yang digunakan dalam pengobatan tradisional tidak sesignifikan permintaan dari luar negeri. “Permintaannya kebanyakan dari Cina dan Vietnam, di mana sisiknya digunakan,” katanya.

Dengan tantangan-tantangan di berbagai bidang ini, masih banyak yang perlu dilakukan. Kesadaran publik akan tenggiling Filipina—yang dianggap salah satu spesies tenggiling yang telah paling sedikit dipelajari—juga masih rendah.

Pada tahun 2018, berbagai kelompok konservasi di Filipina bekerja sama dan merancang peta kerja 25 tahun untuk konservasi tenggiling Filipina. PSCD akan melakukan penelitian untuk mengenali basis-basis populasi tenggiling Palawan, dengan tujuan mendeklarasikan area-area ini sebagai habitat kunci untuk perlindungan di masa depan.

VIII

India

Di hutan-hutan terpencil di negara bagian Manipur, India, yang berbatasan dengan Myanmar, laju kehidupan seringkali terasa lambat. Hutan-hutan telah tumbuh kembali di mana pasukan Inggris dan Jepang yang dulu menginvasi pernah bertempur langsung saat Perang Dunia Kedua.

Di antara perbukitan yang rimbun terdapat Churachandpur, layaknya kota perbatasan di mana toko-toko—yang menjual pakaian dari Cina yang murah dan berbagai peralatan—membanjiri jalanan yang basah karena musim hujan.

Tetapi di balik ketenangan ini ada ekonomi bawah tanah yang dipimpin pedagang margasatwa ilegal dan penyelundup senjata.

“Hampir tidak ada barang yang tidak bisa kami dapatkan di Churachandpur,” kata petugas lapangan dari Wildlife Crime Control Bureau (WCCB) yang meminta namanya tidak disebut, “dari cula badak sampai sisik tenggiling, atau tokek sampai senjata dan amunisi.”

Reputasi buruk Churachandpur berasal dari lokasinya yang berbatasan dengan Myanmar, tetapi kebanyakan margasatwa berakhir di Cina.

India berbagi perbatasan yang tidak sepenuhnya terlindungi, sepanjang 1,600, dengan Myanmar. Tidak heran kalau negara-negara bagian ini adalah rute yang biasa digunakan jaringan perdagangan ilegal yang melibatkan penyelundupan margasatwa, sindikat narkotika, dan, terkadang, militan.

“Terkadang obat-obatan terlarang juga diperdagangkan dengan bagian-bagian tubuh hewan. Obat-obatan dikirim melalui rute-rute ini ke sisi India dengan bantuan dari  kelompok-kelompok militan yang sering lewat rute-rute ini,” kata pejabat polisi Manipur yang sudah pensiun.

Churachandpur, kota perbatasan antara India dan Myanmar. Kota ini diketahui oleh penegak hukum sebagai titik panas penyelundupan obat, persenjataan, dan margasatwa, termasuk tenggiling.

Kami juga diberi tahu bahwa para militan di timur laut India juga merupakan sumber persenjataan dan amunisi bagi para penyelundup di daerah ini. 

“Para pembeli biasanya datang ke Churachandpur atau Dimapur di Nagaland,” kata petugas margasatwa yang menyamar. Ia adalah bagian dari tim investigasi khusus yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian pada tahun 2008 untuk menghentikan perburuan liar badak.

Sebagian tenggiling yang diselindupkan melalui India menuju Yunnan, Cina, melalui Myanmar.

Baru-baru ini, cula badak dan bagian-bagian tubuh harimaulah yang paling banyak diperdagangkan melalui rute-rute ini, tetapi perhatian global yang meningkat telah mengurangi permintaan di Cina. Sekarang, tenggiling dan hewan-hewan lainnya telah menggantikan mereka, kata para penyelidik.

“Awalnya jaringan ini menyelundupkan cula badak, tetapi ia telah meluas ke tenggiling, tokek, dan hewan liar lainnya,” kata petugas itu, yang secara rutin menggelar operasi penangkapan.

“Baru-baru ini kami berhasil menghentikan perburuan badak cula satu dan penyelundupan culanya,” kata juru bicara WCCB. “Tetapi kami melihat peningkatan secara drastis pada penyitaan tenggiling dari daerah ini.”

“Peningkatan penyelamatan [tenggiling] baru-baru ini menunjukkan bahwa ada kericuhan dalam penyelundupan tenggiling ke luar,” kata Rathin Barman, direktur Wildlife Trust of India dan ketua Centre for Wildlife Rehabilitation Conservation (CWRC).

Tetapi jumlah hewan yang ditangkap masih sedikit. Petugas-petugas WCCB telah menyita 10 tenggiling hidup dalam tiga tahun terakhir dari negara-negara bagian India di timur laut. Tenggiling yang diselamatkan dari pedagang ilegal dari Januari 2007 sampai Juli 2019 dirawat di Kebun Binatang Assam.

Tenggiling yang diselamatkan di Centre for Wildlife Rehabilitation and Conservation di dekat Taman Nasional Kaziranga di Assam, India. © Dauharu Baro/Wildlife Trust of India/International Fund for Animal Welfare.

Selain itu, 10 tenggiling baru-baru ini diselamatkan dari pedagang yang meninggalkan mereka untuk menghindari operasi razia oleh badan-badan penegak hukum. Pada bulan Agustus, CWRC menemukan tenggiling mati dalam kantong yang ditinggalkan di halte bis di Assam bagian utara. 

Meskipun populasi India tidak mengonsumsi tenggiling, India adalah sumber subspesies tenggiling India dan Cina. Petani, masyarakat pawang ular seperti Sapera, dan Bawariyasin yang semi-nomadik seringkali menjual hewan-hewan ini ke perantara seharga 70 ribu rupee India, yang kira-kira setara dengan US$1,000, kata para petugas margasatwa.

Tenggiling kemudian dibawa ke Negara Bagian Manipur lalu diselundupkan melewati perbatasan sampai ke Myanmar dan lalu ke Cina, kata mereka.

Tenggiling bukan satu-satunya hewan asal India yang berhadapan dengan ancaman masif terhadap keselamatan mereka. Tokek yang hidup di pepohonan—disangka bisa menyembuhkan kanker dan HIV/AIDS dan menurut kabar bisa dijual sampai dengan harga satu juta rupee—juga diselundupkan ke Cina melalui rute-rute yang sama. 

“Meskipun hewan-hewan ini berstatus dilindungi, badak dan harimaulah yang mendapatkan semua perhatian,” kata aktivis Baibhav Talukder yang berbasis di Assam. “Hukuman untuk memburu badak dan tenggiling mirip, tetapi badan penegak hukum kami tidak begitu peduli tentang tenggiling sampai baru-baru ini.”

“Perdagangan margasatwa seharusnya dilihat sebagai ancaman terhadap keamanan negara dan tidak hanya sekedar penyelundupan hewan,” katanya.

IX

Nepal

Pada bulan Maret, dua pria berusia 40 dan 34 tahun dicegat di Bandara Internasional Tribhuvan saat membawa 162 kilogram sisik tenggiling di bagasi mereka.

Kedua pria itu mengambil sisik tenggiling di Republik Demokratik Kongo, lalu transit di Istanbul dan mencoba untuk transit lagi di Nepal dalam perjalanan ke Shanghai. Mereka sekarang ditahan di Rumah Tahanan Nakkhu di pinggir Kathmandu, di mana mereka sedang menunggu persidangan.

Penahan mereka adalah titik balik: penyitaan sisik tenggiling terbesar di Nepal dan pengiriman pertama spesies tenggiling Afrika. Hal ini membuat polisi khawatir bahwa Nepal telah menjadi titik transit baru bagi tenggiling yang akan ditransport ke Cina.

Dua warga RRC menyelundupkan 162 kilogram sisik tenggiling melalui penerbangan komersil dari Demokratik Republik Kongo ke Istanbul, lalu ke Kathmandu, di mana mereka lalu ditangkap. Mereka berniat ke Shanghai, Cina.


BANDARAISTANBUL ATATÜRKBANDARA INTERNASIONALTRIBHUVANBANDARA INTERNASIONALN'DJILI

Dua warga RRC menyelundupkan 162 kilogram sisik tenggiling melalui penerbangan komersil dari Demokratik Republik Kongo ke Istanbul, lalu ke Kathmandu, di mana mereka lalu ditangkap. Mereka berniat ke Shanghai, Cina.

Menurut informasi yang diambil dari telepon genggang mereka, mereka saat itu sedang berkomunikasi dengan penyelundup mergasatwa dari Cina lewat WeChat, aplikasi pesan dan pembayaran asal Cina. Penyelidik mengidentifikasi antek-antek dari Nepal, Bangladesh, dan Cina. Ketiga orang ini belum ditangkap.

“Ini adalah kasus jelas kejahatan terorganisasi internasional, tetapi ini hanyalah puncak dari gunung es,” kata Birendra Johari dari Badan Pusat Penyelidikan Nepal. “Penyelidikan kami menunjukkan bahwa akhir-akhir ini tenggiling telah menjadi hewan yang paling banyak diburu di Nepal.”

Meskipun Nepal berada pada rute tradisional penyelundupan margasatwa antara India dan Cina, sejauh ini Nepal telah menghindari penyitaan besar-besaran yang sudah terjadi di tempat-tempat seperti Sngapura, Vietnam, dan Hong Kong. Sebagian besar penangkapan sampai saat ini hanya melibatkan tenggiling yang diburu secara lokal dalam jumlah-jumlah kecil, tanpa terlihatnya hubungan yang jelas dengan sindikat-sindikat yang lebih besar.

Tetapi para ahli khawatir bahwa keadaan ini tengah berubah. Salah satu sebabnya adalah membaiknya infrastruktur.

Anggota kelompok anti perburuan liar berbasis komunitas membersihkan perangkap hewan di Kecamatan Kavre, Nepal. Nepal belum pernah mengalami penangkapan skala besar, tetapi ahli penegakan hukum margasatwa berkata bahwa tenggiling telah menjadi hewan yang paling diburu dalam beberapa tahun terakhir. © Zoological Society of London/ Himalayan Nature.

Dibukanya penyeberangan perbatasan Tatopani-Kodari dengan Cina pada awal tahun ini, setelah perbatasan itu hancur akibat gempa tahun 2015, meningkatnya penggunaan penyeberangan perbatasan Rasuwa-Kerung, dan rencana dibangunnya rel kereta trans-Himalaya bisa menjadikan Nepal titik transit yang menarik bagi pedagang ilegal. Polisi di Kecamatan Dolakha yang berbatasan dengan Cina juga berbicara tentang meningkatnya permintaan yang telah membuat hewan tersebut hampir lenyap.

“Nepal sudah menyetujui Insiatif Sabuk dan Jalan Cina, yang bisa meningkatkan akses pasar dan penyelundupan margasatwa,” kata Kumar Paudel dari kelompok konservasi Greenhood Nepal. Ia menambahkan bahwa tenggiling dari Afrika, India, dan Bangladesh sudah pernah ditemukan di Nepal dalam perjalanan ke Cina.

Kasus yang hampir sama terjadi hanya lima bulan sebelum penangkapan di Kathmandu. Dua warga negara Cina ditangkap saat menyelundupkan koper-koper yang penuh dengan sisik tenggiling dari Kongo.

Hanya saja, penangkapan ini tidak terjadi di Nepal, tetapi di Hong Kong.

X

Hong Kong

Hong Kong telah menjadi titik panas untuk penyelundupan sisik tenggiling sejak 2014. Sudah berton-ton pengiriman dalam kontainer dari Afrika disita, dan penyitaan-penyitaan skala kecil untuk pengiriman yang menggunakan perahu motor dan penyelundup perorangan yang datang lewat udara. 

Meskipun pengobatan tradisional Cina (TCM) masih memegang peran penting dalam area ini—ada lebih dari 1,100 pedagang TCM yang bersertifikat di sini—para penyalur lokal yang kami temui saat menyamar berkata bahwa mereka tidak tertarik dengan sisik dalam jumlah besar karena permintaan lokal terlalu kecil.

“Risiko [menjual sisik] terlalu tinggi kalau dibandingkan dengan keuntungan. Tidak sebandinglah,” kata seorang pemilik toko, “bisnis ini lebih bagus kalau di daratan (Cina).”

Di penjara Lo Wu, kami menemukan dua penyelundup skala kecil yang bersedia bercerita tentang tindakan mereka.

Dua perempuan Cina ini sedang menjalani hukuman karena menyelundupkan sekitar 110 kilogram sisik tenggiling dalam empat koper dari Bandara Internasional Hong Kong menuju Macau melalui kapal feri, dari Republik Demokratik Kongo. 

Salah satu dari mereka, perempuan yang berusia 41 tahun, menjelaskan latar belakangnya dari keluarga yang tidak begitu mampu di Cina, masa-masa dia berada di Kongo, rencananya untuk kembali ke Cina dan penangkapannya di terminal feri di Hong Kong bulan Agustus tahun ini. Kedua perempuan ini berasal dari daerah Guangxi di Cina selatan dan meminta agar nama mereka tidak disebut supaya bisa lebih bebas berbicara.

Penjara di mana kedua penyelundup ditahan. Foto: Karen Zhang/The South China Morning Post.

Menurut mereka, seorang pria yang mereka sebut dengan nama Li Guangsheng mengundang mereka ke Kongo tahun lalu, untuk berinvestasi dalam salon kecantikan. Li memiliki bisnis konstruksi di Kinshasa, ibu kota Kongo, kata mereka. “Saya diberi tahu bahwa ada banyak orang Cina di sana dan bisnis lancar,” kata salah seorang perempuan.

Li menjadi tuan rumah mereka dan membiayai mereka sepanjang satu bulan mereka di Kinshasa, dari Oktober sampai November tahun lalu, kata mereka. Lalu Li meminta mereka untuk membawa empat koper ke Macau, pusat perjudian.

Mereka terbang dari Kinshasa ke Hong Kong melalui Casablanca di Maroko dan Doha—rute melingkar yang menurut mereka lebih murah daripada penerbangan langsung.  

Pernyataan mereka tidak bisa diverifikasi dan kami tidak bisa menemukan informasi kontak untuk Li.

Pada tahun 2018, dua perempuan Cina ditangkap membawa 110 kilogram sisik tenggiling dari Kinshasa, melalui Maroko dan Qatar, lalu ke Hong Kong. Menurut mereka, tujuan mereka adalah Macau.


Kedua perempuan ini ditangkap di Bandara Internasional Hong Kong saat mencoba naik kapal feri ke Macau.


Menurut kedua perempuan, mereka diberikan instruksi oleh seorang kenalan mereka di Kongo untuk meneruskan sisik ke seseorang yang tidak mereka kenal di Macau. Kalau perjalanan terjadi sesuai rencana, ke-empat koper yang berisi sisik tenggiling akan menempuh 17 ribu kilometer lewat rute penerbangan komersil.

BANDARA INTERNASIONAL CASABLANCA MOHAMMED V, MOROCCO BANDARA INTERNASIONAL HONG KONG BANDARA INTERNASIONAL N'DJILI, CONGO BANDARA INTERNASIONAL HAMAD, QATAR BANDARAINTERNASIONALHONGKONG TERMINAL FERRY MACAU

Pada tahun 2018, dua perempuan Cina ditangkap membawa 110 kilogram sisik tenggiling dari Kinshasa, melalui Maroko dan Qatar, lalu ke Hong Kong. Menurut mereka, tujuan mereka adalah Macau.

Kedua perempuan ini ditangkap di Bandara Internasional Hong Kong saat mencoba naik kapal feri ke Macau.

Menurut kedua perempuan, mereka diberikan instruksi oleh seorang kenalan mereka di Kongo untuk meneruskan sisik ke seseorang yang tidak mereka kenal di Macau. Kalau perjalanan terjadi sesuai rencana, ke-empat koper yang berisi sisik tenggiling akan menempuh 17 ribu kilometer lewat rute penerbangan komersil.

Dua perempuan ini ditangkap di bandara Hong Kong saat pengecekan X-Ray rutin di bea cukai. Koper-koper mereka memuat 302 sisik tenggiling dengan total berat 110 kilogram, yang dibungkus dalam kantong-kantong dari kertas timah. Penuntut kemudian memperkirakan bahwa sisik yang mereka bawa senilai sampai $71 ribu. 

Saat kami mengunjungi mereka dalam tahanan sebelum vonis diberikan, kedua perempuan mengklaim bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka bawa. “Kami pikir itu makanan laut yang dikeringkan,” kata salah satu dari mereka.

Mereka mengaku bersalah dan dihukum 16 bulan penjara untuk mengimpor produk margasatwa dilindungi tanpa izin.

Kasus mereka disidang setelah ada hukum baru yang diterbitkan bulan November 2018, yang meningkatkan hukuman untuk penyelundupan tenggiling. Saat ini, tindakan kriminal tersebut bisa dihukum denda sampai 10 juta dolar Hong Kong, atau sekitar $1.3 juta, dan sampai 10 tahun penjara.

Ketika kami mengunjungi mereka lagi setelah vonis dijatuhkan, salah satu perempuan mengubah ceritanya. Menurutnya, ia memang tahu bahwa sedang menyelundupkan tenggiling, tetapi mereka tidak menyangka akan dipenjarakan.

Ini adalah 110 kilogram sisik tenggiling dalam bungkusan kertas timah yang hendak diselundupkan melalui Hong Kong ke Macau oleh kedua perempuan itu. © Departemen Bea dan Cukai Hong Kong.

Menurut perempuan ini, “Li berkata bahwa kalau kami ditangkap, ia akan membayar dendanya dan kami akan baik-baik saja. […] Kami percaya dia.”

“Saya dengar seseorang yang membawa gading untuk dia pernah ditangkap di Hong Kong,” katanya, “tetapi orang itu dilepaskan setelah membayar denda.”

Kasus mereka bukan satu-satunya. Di pertengahan November tahun lalu, seorang pria dari Propinsi Fujian, Cina, divonis 20 bulan penjara karena menyelundupkan 48 kilogram sisik tenggiling dari Demokratik Republik Kongo melalui Etiopia menuju Hong Kong.

Kedua perempuan itu masih menjalani hukuman dan melewati hari-hari mereka mencuci piring dan membersihkan lantai di dapur penjara. Begitu mereka dibebaskan, mereka berencana pulang ke Guangxi. “Kami akan dikirim ke perbatasan dan pulang naik kereta cepat,” kata salah satunya sembil tersenyum masam.

XI

Vietnam

Di suatu pagi di musim panas, di kota turis Ha Long, Vietnam, kami bertemu seorang pria dengan nama belakang Chen di sebuah bar yang pada siang hari akan berubah menjadi tempat berdagang teh susu dan tempat penukaran uang, 

Chen memiliki restoran, tetapi ia juga berusaha mencari penghasilan tambahan dengan membawa turis keliling dan menyelundupkan gading dan tenggiling. Chen, yang lahir tahun 1988, tinggal sendiri di apartemen yang berantakan di pinggiran Ha Long. Chen menunjukkan tiga sisik tenggiling sebagai contoh pekerjaannya kepada kami (kami sedang menyamar dan berpura-pura tertarik membeli sisik). “Kamu bisa menunggu di rumah di Cina, kami mengirimnya sampai ke pintu rumahmu,” katanya.

Harga yang ia minta tergantung tempat asal. Sisik tenggiling Asia dihargai 3,200 renmibi Cina, atau sekitar $450, tetapi sisik Afrika hanya diharga 1,300 renmibi, atau $180, per kilogramnya. Karena risiko berurusan dengan hukum, ia hanya mengambil pesanan di atas 10 kilogram dengan harga-harga yang sudah disebut. Untuk permintaan dalam jumlah yang lebih kecil, ia akan meminta harga lebih tinggi.

Sisik tenggiling yang ditunjukkan Chen sebagai contoh bisnisnya. Seorang ahli kemudian menjelaskan kepada kami bahwa sisik itu berasal dari seekor tenggiling Asia.

Suplai tenggiling Chen datang dari Laos. Tetapi menurut Chen, ia tidak tahu bagaimana suplainya dikirim dari Afrika atau tempat lain di Asia ke satu-satunya negara Asia Tenggara yang tidak memiliki pesisir laut. Ia menyombongkan bahwa setelah diselundupkan ke Cina, barang-barang jualannya, yang juga termasuk cakar beruang dan gading, bisa dikirim ke seluruh Cina kecuali propinsi-propinsi di timur laut. Waktu pengiriman sekitar empat hari.

Ada rute darat yang sering digunakan dari Laos melalui Vietnam menuju Cina, menurut penelitian yang kami lakukan atas laporan media lokal dari 2011 sampai 2019. Lebih dari 3,000 tenggiling hidup sudah pernah disita saat diselundupkan dalam total 44 kasus penyitaan pada rute darat yang melintas dari Cau Treo di perbatasan Laos sampai Móng Cái di perbatasan Cina.


Data yang dikumpulkan dari laporan-laporan di media tentang penyitaan tenggiling dari 2011 dan September 2019 menunjukkan bahwa hampir 50 persen dari semua kasus penangkapan yang dilaporkan di Vietnam terjadi sepanjang jalan tol yang menghubungkan perbatasa Laos di Cau Treo dengan perbatasan Cina di Móng Cái. Ini berarti ada rute penyelundupan yang tetap.


Kedua kota perbatasan, Dongxing and Mong Cai, telah menjadi pusat penyelundupan tenggiling. Penduduk di kota-kota perbatasan ini bisa meminta izin khusus yang membolehkan mereka melewati perbatasan dengan pengecekan minimal. Penyelidikan menunjukkan bahwa hal ini seringkali memudahkan aktivitas penyelundupan.

MÓNG CÁICAU TREO BORDER PASS

Data yang dikumpulkan dari laporan-laporan di media tentang penyitaan tenggiling dari 2011 dan September 2019 menunjukkan bahwa hampir 50 persen dari semua kasus penangkapan yang dilaporkan di Vietnam terjadi sepanjang jalan tol yang menghubungkan perbatasa Laos di Cau Treo dengan perbatasan Cina di Móng Cái. Ini berarti ada rute penyelundupan yang tetap.

Kedua kota perbatasan, Dongxing and Mong Cai, telah menjadi pusat penyelundupan tenggiling.Penduduk di kota-kota perbatasan ini bisa meminta izin khusus yang membolehkan mereka melewati perbatasan dengan pengecekan minimal. Penyelidikan menunjukkan bahwa hal ini seringkali memudahkan aktivitas penyelundupan

Tetapi penyelundupan yang lebih besar terjadi lewat udara dan kargo laut. Sejauh ini, polisi dan pihak bea cukai telah menyita lebih dari 43 ton sisik tenggiling dan lebih dari 24 ton tenggiling beku antara 2011 dan 2019, menurut penelitian kami. Bukti anekdotal menunjukkan bahwa mayoritas kargo berasal dari negara-negara Afrika, termasuk Nigeria dan Kamerun. 

Dalam pembicaraan kami, Chen menyebutkan kota perbatasan Dongxing di Cina sebagai pusat penyelundupan, jadi kami pun berangkat ke sana. Kota ini, juga “pasangannya” Móng Cái di Vietnam, telah berkembang akibat perdagangan di perbatasan. Kedua kota ini seakan-akan telah menjadi satu, kalau saja tidak ada pengawasan ketat dan tembok-tembok untuk mengontrol dan mengenakan pajak pada perdagangan perbatasan informal yang marak. 

Kota Dongxing, Cina, bisa dilihat dari kejauhan, tepatnya dari kota Móng Cái di Vietnam. Di sini, wartawan-wartawan kami yang menyamar menemukan rute bawah tanah aktif untuk penyelundupan margasatwa, termasuk tenggiling.

Sepertinya pos pengecekan di sini hanya semacam formalitas dalam kehidupan di kedua sisi perbatasan. Penduduk di kedua kota berkata bahwa mereka menggunakan izin khusus yang membolehkan mereka melintasi perbatasan tanpa pengecekan yang sungguh-sungguh, selama mereka tidak lama di seberang dan tidak keluar dari area perbatasan.

Di sisi Vietnam, kami bertemu dengan Hoang Anh, seorang supir taksi yang sebelumnya bekerja menjual iPhone yang dibeli di Cina. Ia menunjukkan foto dirinya dengan saudara lelakinya dan tujuh tenggiling.

Cuplikan layar WeChat Hoang Anh, seorang supir taksi yang juga memiliki bisnis sampingan ilegal memperdagangkan margasatwa di Mong Cia.

Foto ini, tertanggal bulan Juni, bermaksud membuktikan bahwa ia bisa mendapatkan hewan itu saat masih segar dan hidup. Menurutnya, sebagian besar pembelinya tertarik dengan daging tenggiling sebagai santapan khusus.

Tenggiling dijual seharga 1.250 renmibi per kilogram, yang berarti satu hewan hidup dengan berat sekitar 5 kilogram dijual seharga 5,000-8,000 renmibi. Kata Hoang Anh, pengiriman ke Cina tidak masalah karena sogokan dan koneksinya.

XII

Taiwan

Jauh di pedalaman hutan Luanshan di Taiwan, di tengah kegelapan malam, Yu Man-jung menemukan jejak di tanah. “Baru saja ada tenggiling di sini,” Yu memberi tahu tim peneliti di belakangnya. Yu, yang dikenal dengan panggilan A-yung, bergerak dengan gesit mencari jejak lain. Selama bertahun-tahun menjadi pemburu liar, matanya menjadi mahir mengenali tanda-tanda jejak hewan pemakan semut yang pemalu ini.

Sebelum ia mulai bekerja sama dengan peneliti tenggiling di National Pingtung University of Science and Technology (NPUST), Yu mencari nafkah dengan berburu tenggiling. Hal ini dilakukannya bertahun-tahun lalu, sebelum peneliti tenggiling Hsun Chin-min memperkerjakan Yu untuk mencari jejak hewan itu untuk penelitian. Bagi Yu, penghasilan barunya menyeimbangkan kehilangan pendapatan akibat peraturan yang lebih ketat dan menurunnya permintaan domestik untuk daging tenggiling.

Sebagai seseorang yang lahir di pegunungan, Yu telah lama hidup di antara tenggiling. Pengetahuannya akan hutan dan naluri yang kuat untuk mencari hewan penyendiri ini disebut oleh para peniliti sebagai salah satu sebab kesuksesan di bidang penelitian ini.

“Kalau bukan karena A-yung, saya tidak mungkin tahu di mana tenggiling berada,” kata Hsun dengan kagum, menggunakan panggilan akrab Yu. “Ia memang selalu membuka jalan bagi tim patroli tenggiling.”

“Tanpa orang lokal yang memandu jalan, kami tidak mungkin bisa menemukan tenggiling, biar bagaimanapun majunya teknologi kami,” kata Hsun.

Yu meninggal dalam kecelakaan pada tahun 2016, tetapi sumbangannya bagi penelitian dan konservasi tenggiling tidak dilupakan. Hsun kini memimpin penelitian yang sedang berlangsung di Luanshan, Taitung, untuk lebih mengenal tenggiling liar dan santapannya.

Peneliti tenggiling Hsun Ching-min telah menghabiskan delapan tahun melacak tenggiling liar untuk tahu lebih banyak tentang hewan pemalu dan penyendiri itu. Foto: Tsai Yao-Cheng/The Reporter.

Penelitian tenggiling bisa menjadi pekerjaan sulit yang menghabiskan banyak waktu—dan biasa melibatkan kegagalan—untuk melacak, menganalisis sumber-sumber makanan, dan bahkan mencium feses.

Hsun, yang sudah melacak 47 tenggiling liar dalam penelitian selama 8 tahun, bergurau dan memanggil dirinya “pria yang sudah mengoleksi feses tenggiling paling banyak di dunia.”

Hsun mengembangkan dan mempatenkan teknik untuk memisahkan komponen feses tenggiling. Ia bekerja sama dengan Kebun Binatang Taipei untuk menganalisis volume dan laju pencernaan berbagai spesies semut dalam feses tenggiling.

Tenggiling dikenal sulit untuk dipelihara, dan tenggiling yang diselamatkan seringkali mati karena stres dan tidak mau makan. Dengan penelitian Hsun, NPUST berharap bisa tahu lebih banyak tentang kebiasan makan tenggiling untuk meningkatkan kelangsungan hidup tenggiling-tenggiling yang diselamatkan di masa depan.

Saat ini, Taiwan telah menjadi cerita sukses konservasi tenggiling, tetapi ceritanya berbeda hanya setengah abad lalu. Dari tahun 1950 sampai 1970, Taiwan mengekspor hampir 60 ribu kulit tenggiling setiap tahun. Akibatnya, tenggiling hampir punah.

Seekor tenggiling yang baru lahir diberikan makan secara manual di Endemic Species Research Institute First Aid Station, salah satu dari tiga tempat penampungan tenggiling yang diselamatkan di Taiwan. Foto: Yu Chih-Wei/The Reporter.

Perburuan dan ekspor komersil baru dilarang pada tahun 1989, setelah pemerintah Taiwan menerbitkan Wildlife Conservation Act. Hari ini, kepadatan populasi tenggiling Taiwan salah satu yang tertinggi di dunia.

Di saat reformasi dalam legislasi dan kesadaran publik pada umumnya berakhir di perdagangan ilegal, Taiwan tetap menjadi tempat transit penyelundupan ke daratan Cina.

Tahun lalu, petugas bea cukai Kaohsiung menemukan 3,880 tenggiling mati yang sudah dikuliti dan dibuang isi perutnya di dalam kontainer yang berasal dari Malaysia. Dalam penyitaan besar lain, Administrasi Pengawas Pantai menyita lima tenggiling Taiwan, kura kuning Asia dan kuya batok Cina pada tahun 2015.

Hewan-hewan ini juga diduga sedang menuju ke daratan Cina.

Pada bulan January 2018, ada kontainer yang ditemukan memuat 3,880 tenggiling yang sudah dikuliti dan dibuang isinya di Pelabuhan Kaohsiung. Menurut sumber di layanan bea cukai, pengiriman tersebut ditilik berasal dari Kuching, Malaysia, dan kemungkinan besar bertujuan daratan Cina.

Sekarang, Hsun telah mengasah keterampilannya menemukan tenggiling liar, meskipun ia mengakui bahwa ia pada umumnya mengandalkan keberuntungan. Kami memanjat gunung bersamanya sepanjang rute yang sama yang digunakan Yu, si mantan pemburu. Satu jam setelah pendakian dimulai, kami menemukan galian lama yang terkubur di bawah setumpuk daun dan rumput liar.

Seorang penduduk lokal menunjuk ke lereng di dekat kami. “Ada lubang galian di sana dan itu cukup baru,” katanya. Kami merangkak sambil berpegangan pada bambu supaya tidak terjungkal, sampai kami menemukan galian bawah tanah yang dimaksud. Ada sisa busut semut yang segar di samping lubang itu, sebesar kepalan tangan, sisa-sisa santapan tenggiling.

Peneliti tenggiling Hsun Ching-min mempelajari lubang galian tenggiling. Ia mengandalkan pemandu lokal untuk mencari hewan itu, yang ia pelajari untuk meningkatkan kelangsungan hidup tenggiling yang diselamatkan. Foto: Tsai Yao-Cheng/The Reporter.

Keberuntungan kami membuat Hsun terheran-heran. Penemuan semacam ini memang hal yang langka. “Galian ini baru digali dalam dua hari terakhir,” katanya. “Biasanya mulai berjamur setelah itu,” katanya.

XIII

Konklusi

Kami kembali berada di daratan Cina. Di bulan April, kamu menemukan lima tenggiling di suatu kebun binatang di kota bagian selatan bernama Guangzhou, Propinsi Guangdong. Hewan-hewan ini disita dalam operasi penangkapan terhadap penyelundup di kota di dekat Guangzhou beberapa minggu sebelumnya. Kantor kehutanan propinsi menginstruksikan agar mereka disimpan di kebun binatang untuk sementara. Mereka berakhir di dalam kandang yang sebelumnya digunakan untuk reptil.

Asal muasal hewan-hewan ini tetap tidak diketahui, tetapi menurut para petugas, mereka dibawa ke Cina melalui Vietnam lalu ke Meizhou, kota di bagian selatan sekitar 400 kilometer di timur Guangzhou. Petugas bea cukai menyita total 103 tenggiling dalam operasi ini. Dari seluruh jumlah ini, 82 dibawa ke daerah Guangxi dan 21 disimpan di Guangdong. Mayoritas 21 tenggiling di Guangdong meninggal tak lama setelahnya.

Kelompok advokasi China Biodiversity Conservation and Green Development Foundation mengirim stafnya, Sophia Zang, dari Beijing ke Guangzhou untuk merawat hewan-hewan yang tersisa.

Di kebun binatang ini, Zhang menyediakan kamera yang menyediakan siaran langsung dan memberitakan kabar terbaru lewat Weibo, jejaring sosial milik Cina yang mirip Twitter, untuk menarik perhatian pendana terhadap nasib malang hewan-hewan ini. Relawan di Propinsi Yunnan, yang berbatasan dengan Myanmar dan Laos, mengumpulkan dan membekukan semut untuk Zhang, dan mengirimkannya ke Guangzhou agar bisa disantap tenggiling.

Meskipun ia sudah berusaha keras, dua tenggiling mati di bulan April, menyisakan tiga hewan. Dokter-dokter hewan dari rumah sakit hewan di dekat sana dan mahasiswa yang belajar kedokteran hewan di universitas lokal bersukarela menolong Zhang menyiapkan makanan mereka, menggunakan sumpit untuk melepaskan semut yang dibekukan, dan membersihkan kandang mereka. “Saya senang mereka makan dengan baik,” kata Zhang. “Tenggiling seperti manusia saat dalam keadaan terguncang.”

Seekor tenggiling yang diselamatkan dalam operasi penangkapan di Guangzhou, Cina, tahun ini. Menurut seorang dokter hewan yang merawatnya, kematian seekor tenggiling lain yang diselamatkan membuat tenggiling yang tersisa cemas. @Sophia Zhang.

Tiga tenggiling ini adalah pembuka jalan. Ini adalah pertama kalinya pemerintah Cina membolehkan organisasi nirlaba yang bukan badan penegak hukum untuk membantu merawat hewan yang disita, kata juru bicara yayasan.

Yayasan bersenang hati karena mereka telah mencoba membuka akses terhadap tenggiling yang disita sejak 2017. Tahun lalu, yayasan ini bahkan menuntut secara hukum untuk mendapatkan akses terhadap satu kelompok lain yang terdiri dari 32 hewan sitaan. Kasus ini tengah berlangsung. Mungkin tiga tenggiling ini bisa menjadi contoh bagi kasus persidangan dan kasus-kasus lain di masa depan.

Kebun binatang itu akhirnya hanya menjadi rumah sementara. Pada bulan Mei, yayasan menemukan lahan di Qingyuang, kota di dekat Guangzhou, di mana hewan-hewan ini bisa secara perlahan dilepaskan sampai mereka dalam keadaan “hampir” bebas.

Sebuah perusahaan properti telah menyediakan lahan seluas beberapa ratus meter persegi yang dikelilingi gedung-gedung huniannya. Ini adalah lahan yang cukup untuk mereka agar bisa hidup secara relatif damai. Pelepasan ini adalah yang pelepasan pertama tenggiling yang disita ke kondisi semi-liar di Cina, kata yayasan.

Selang beberapa hari, para tenggiling mulai akrab dengan lingkungan baru mereka dan mulai menggali mencari makanan. Sepertinya mereka juga telah punya napsu makan.

Tetapi salah satu dari mereka kesulitan bernapas dan mulai bergerak lebih pelan.

Petugas bea cukai di Cina menyelamatkan tenggiling ini dari penyelundup di awal tahun 2019. Akhirnya ia meninggal, meskipun para relawan dan dokter hewan sudah berusaha keras. Foto: Handout.

Saat kondisinya memburuk, para relawan menaruh hewan itu di dalam kotak dan cepat-cepat membawanya ke rumah sakit hewan di Guangzhou. Namun saat mereka tiba, tenggiling itu dinyatakan telah mati.

Staf perusahaan properti tidak memiliki pengalaman seperti Zhang dalam merawat dua tenggiling yang tersisa. Dua hewan ini telah bertarung dengan kecemasan sejak kematian temannya, katanya.

Pada bulan Juni, yayasan meminta pemerintah untuk menarik kedua hewan itu ke tempat penampungan agar mereka bisa dilepaskan lebih awal ke alam liar. Pada tanggal 3 Juli, mereka dijemput petugas kantor kehutanan.

Nasib kedua tenggiling ini tidak diketahui. Kantor kehutanan menolak berkomentar.

Tim Investigasi

Reporter Utama

  • Xu Jiaming, China
  • Elroi Yee, R.AGE, Malaysia
  • Karen Zhang, The South China Morning Post, Hong Kong

Reporter

  • Tommy Apriando, Tempo & Mongabay, Indonesia
  • Sonia Awale, The Nepali Times, Nepal
  • Trang Bùi, Centre for Media and Development Initiatives, Vietnam
  • Ying Chan, Hong Kong
  • Jane Chu, ADMCF, Hong Kong
  • Keith Anthony Fabro, Rappler, Philippines
  • Jee Geronimo, Rappler, Philippines
  • Sahana Ghosh, India
  • Erwan Hermawan, Tempo, Indonesia
  • Chiraprapa Koonlachoti, ThaiPublica, Thailand
  • Janet Lin Hui-chen, The Reporter, Taiwan
  • Lyra Lu, Hong Kong
  • Samuel Ogundipe, Premium Times, Nigeria
  • Anu Nkeze Paul, Green Echoes, Cameroon
  • Aliza Shah Muhammad Shah, R.AGE
  • Anup Sharma, India
  • Roy Tang, Hong Kong

Pembuatan Web

  • Johenson Goh, R.AGE, Malaysia
  • Mandy Leong, R.AGE, Malaysia
  • Husna Ab Rahman, R.AGE, Malaysia
  • Yasmin Zulhaime, R.AGE, Malaysia
  • Roy Tang, Hong Kong
  • Mishty Negi, Hong Kong

Multimedia

  • Tommy Apriando, Tempo & Mongabay, Indonesia
  • Samuel Ogundipe, Premium Times, Nigeria
  • Puah Sze Ning, R.AGE
  • Tsai Yao-Cheng, The Reporter
  • Xu Jiaming, China
  • Elroi Yee, R.AGE
  • Yu Chih-Wei, The Reporter
  • Karen Zhang, The South China Morning Post

Bahasa

  • Yenni Kwok, Hong Kong
  • Joyce Lau, Hong Kong

Funding

  • Participating media organisations and pro-bono volunteers. Some reporting expenses were funded by ADM Capital Foundation, Hong Kong.

Redaktur

  • Patrick Boehler, Switzerland
  • Ying Chan, Hong Kong
  • Samantha Chow, R.AGE, Malaysia
  • Wahyu Dhyatmika, Tempo, Indonesia
  • Kunda Dixit, The Nepali Times, Nepal
  • Hu Pili, Hong Kong
  • Sherry Lee, The Reporter, Taiwan

Terima kasih kepada

  • Ian Yee, Produser Eksekutif, R.AGE
  • Soh Sze Jean, Legal, Star Media Group Berhad
  • Ross Settles
  • Dominique Soguel-dit-Picard
  • Cheddar Media, Hong Kong
  • Jervois One (HK) Ltd., Hong Kong
  • Kadoorie Farm and Botanic Garden, Hong Kong
  • IJNet
  • AAJA Asia
  • The CITES Secretariat
  • Global Investigative Journalism Network
  • Environmental Investigation Agency
  • TRAFFIC